Zuhri Muqoffin Muctar, Muqorrobin Misbah, Semarang : Penerbit Asy Syifa, 2003, hal. 46-70 [7] Pembahasan tema ini diambil dari pembahasan kitab ihya’ ‘Ulumuddin bab ke-5 mengenai adab (tata
Dan tidak ada yang membantah Ihya’ Ulumiddin itu melainkan orang yang sesat lagi menyesatkan, bahkan berkata sebagian arifin; "Demi Allah, jika sekiranya Allah bangkitkan orang mati niscaya tidaklah mereka berpesan terhadap mereka yang hidup, melainkan dengan apa yang ada dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, dan di dalamnya ada manfa'at pelajar
MenurutImam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, setidaknya ada tujuh adab dan tugas yang harus dipenuhi seorang murid. Yaitu; Adab yang pertama, seorang murid terlebih dahulu harus membersihkan jiwa dari segala bentuk akhlak yang tercela. Ini didasarkan kepada sabda Rasulullah saw., “Agama itu didirikan di atas pondasi nilai-nilai kebersihan.”.
EtikaSeorang Murid Terhadap Guru Etika seorang murid murid kepada guru, sesuai yang dikatakan oleh Hasyim Asy’ari hendaknya harus memperhatikan sepuluh etika utama, yaitu : 1. hendaknya selalu memperhatikan dan mendengarkan apa yang dijelaskan atau dikatakan oleh guru 2. memilih guru yang wara’ artinya orang yang selalu berhati-hati dalam
AdabAdab Imam Dan Makmum (Dalam Sembahyang Berjamaah) 96 BAHAGIAN KETIGA 13. Adab-Adab Harl Jumaat 100 Abad-Adab Pergaulan Dan Persahabatan Dengan Khaliq (Tuhan) Dan Dengan Makhluk 154 14. Adab-Adab Puasa 106 1. Abad-Adab Dengan Tuhan Pencipta Kita 154 2. Adab-Adab Seorang Guru 156 3. Adab-Adab Seorang Murid 158 4. Adab-Adab
Diantaranya Setelah sholat subuh KH. Zaenudin Djazuli mengajar Kitab Asymuni Sarah Al fiyah (ilmu lughot). Sore hari KH. Zaenudin Djazuli mengajar Kitab Fathul Qorib (fiqih), Kitab Ta’lim (moral), Kitab Bidayah (tasawuf dasar), dan setelah Maghrib beliau mengajar Kitab Ihya’ Ulumuddin (tasawuf tinggi), Shohih Muslim (Hadis), subhanallah. KH.
ImamAl-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin terdapat istilah akhraja hu yang berarti mereka berdua meriwayatkannya. Ia belajar hadits sejak masih dalam usia dini, yaitu mulai tahun 218 H. Ia pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya.
ANALISISPROFIL GURU DAN MURID MENURUT PERSPEKTIF IMAM AL GHAZAL (kajian kitab ihya ulumuddin karangan imam al ghazali) Primurlib adalah Union Catalog Server (UCS) yang menyediakan servis Online Public Access Catalogue (OPAC) untuk instansi/perpustakaan di wilayah Priangan Timur yang menggunakan Senayan Library Management System (SLiMS)
Beliauberkata dalam kitabnya “Ihya Ulumuddin”; ada sepuluh adab dalam membaca Al-Quran untuk bisa dijadikan amalan zhahir, dan sepuluh lainnya sebagai amalan batin yang harus diterapkan oleh pembaca Al-Qur'an. Dan di antara ulama lainnya, Imam An-Nawawi yang menyusun kitab yang begitu indah dan bermanfaat yaitu “At-Tibyan Fi Adabi
Kitabini diterbitkan oleh Majelis Ta’lim Nurul uhibbin Barabai Kalimantan Selatan (tanpa tahun). Isi kitab ini berkenaan dengan masalah rukun agama, tauhid, tasawuf dan pembersihan diri. d. Kitab al-Tafakkur Kitab al Tafakkur ini diambil dari kitab Ihya Ulumuddin karangan al Imam Abi Hamid al Ghazali, kemudian dialih bahasakan
Olehkarena itu, Kitab Ibnu Abi Hatim dipenuhi oleh penilaian para pakar ilmu jarh dan ta’dil.Kitab ini mengungguli kitab Tarikh al-Kabir karya al-Bukhari karena dalam kitab itu al-Bukhari sedikit sekali menyebut jarh dan ta’dil.Namun hal itu tidak mengurangi nilai kitab al-Bukhari karena al-Bukhari mungkin sengaja melakukan demikian dengan pertimbangan, ia
PentingnyaAmalan yang di kerjakan semata- mata karena Allah SWT Dikisahkan di dalam kitab Ihya Ulumuddin, bahwa ada seorang ‘abid Resep Sop Bakso Ikan A ssalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, teman teman semua, hari ini saya mau membagikan resep masakan sederhana yang bisa kalian cob
sanggahan terhadap pemikiran kaum filsafat). 20 4. Kitab Ihya’ Ulumiddin Kitab Ihya’ Ulumiddin (Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama), merupakan salah satu karya monumental yang ditulis oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali pada awal abad ke-5 Hijriyah. Kitab ini terdiri dari
TOKOHILMUWAN MUSLIM PADA MASA BANI ABBASIYAH. 1. Ibnu Sina (370 H – 428 H / 980 M – 1037 M) Abu Ali Al-Husaini bin Abdullah bin Sina (Ibnu Sina) adalah seorang ahli kedokteran Muslim. Ia dilahirkan di Bukhara 370 H/980 M. Beliaau dibesarkan di lembah Sungah Daljah dan Furat, tepi selatan Laut Kaspia, kawasan Bukhara.
Diantarakaryanya terdapat beberapa kitab yang terkenal seperti Ihya Ulumuddin (menghidupkan ilmu-ilmu agama) yang dikarangnya beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara Syam, Yerusalem, Hijaj dan Yus, yang berisi paduan indah antara fiqh, tasawuf dan filsafat, bukan saja terkenal dikalangan muslim tapi juga dikalangan dunia barat dan
qcSmdr. Terbit 25 October 2021 Oleh Kategori Ihya 'Ulumuddin Tata krama atau adab yang semestinya dijalankan oleh para guru dan murid adalah sebagai berikut KEWAJIBAN SEORANG MURID Pertama Menjaga diri dari kebiasaan rendah diri dan perilaku tercela. Rasulullah SAW bersabda, “Agama ditegakkan atas kebersihan. Maka kebersihan lahir dan kesucia batin dibutuhkan”. Usaha murid untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan adalah amalan hati. Sholat dan ibadah fardhu ain lainnya dikerjakan oleh tubuh, sedangkan untuk memperoleh ilmu dari seorang guru tidak dapat dicapai tanpa menyingkirkan kebiasaan buruk dan sifat-sifat jahat. Ibnu Mas’ud RA pernah berkata, “Ilmu tidak diraih dengan banyak belajar. Ia adalah Cahaya nur yang dipancarkan ke dalam dada”. Kedua Mengurangi keterpautannya pada urusan duniawi semata dan berusaha mencari tempat belajar yang jauh dari kerabat dan kampung halaman karena ilmu tak mungkin diperoleh di lingkungan yang demikian. Ketiga Bersikap tawadhu’ atau tidak meninggikan diri dihadapan gurunya. Ilmu tidak akan dapat diraih kecuali dengan kesederhanaan dan kerendahan hati. Apa saja yang dianjurkan oleh guru, murid harus mengikutinya dan mengesampingkan pendapat pribadinya. Murid hanya boleh bertanya perihal perkara yang diijinkan oleh gurunya saja. Keempat Ia tidak terlalu memberikan perhatian kepada perbedaan antara ilmu duniawi dan ilmu ukhrawi, karena itu bisa menggerus hatinya hingga kehilangan semangat untuk mempelajari ilmu. Ia pertama-tama harus mengindahkan ucapan gurunya dan tidak boleh mempermasalahkan berbagai mazhab. Kelima Tidak boleh meninggalkan satu cabang ilmupun. Ia harus bersemangat untuk mempelajari berbagai cabang ilmu karena setiap cabang ilmu sesungguhnya saling membantu dan berhubungan erat. Keenam Tidak boleh mempelajari atau mendalami beberapa atau semua cabang ilmu dalam satu waktu. Ia harus mempelajari dahulu ilmu yang terpenting bagi kehidupannya. Sedikit ilmu jika diperoleh dengan semangat dan gairah, Insya Allah akan menyempurnakan hati kita untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya. Ilmu yang tertinggi dan termulia adalah ilmu mengenal Allah ma’ rifatullah. Ketujuh Tidak boleh mendalami cabang ilmu baru hingga ia menguasai dengan baik cabang ilmu sebelumnya. Satu cabang ilmu umumnya menjadi pengatur dan penuntun bagi cabang ilmu lainnya. Kedelapan Mengetahui sebab-sebab suatu ilmu mulia dikenal. Suatu ilmu yang mulia dapat dikenali dari dua hal yaitu kemuliaan hasilnya dan Kekuatan prinsip-prinsipnya. Sebagai contoh pada ilmu agama dan ilmu kedokteran. Hasil dari agama adalah untuk mendapatkan kehidupan yang kekal dan hasil dari ilmu kedokteran adalah memperoleh kehidupan sementara di dunia. Dari sini tampak jelas bahwa ilmu dengan hasil mengenal Allah, Rasul-Nya, malaikat-Nya, kitab-Nya adalah ilmu yang paling mulia, demikian pula dengan cabang-cabang ilmu penunjangnya. Kesembilan Mempercantik hati dan tindakan dengan kebajikan, menggapai kedekatan dengan Allah SWT dan malaikat-Nya serta bersahabat dengan orang yang dekat dengan Allah SWT. Derajat tertinggi iman seseorang dimiliki oleh para Nabi, kemudian para Wali, lalu para Alim Ulama yang mendalam ilmunya, dan terakhir orang-orang saleh yang mengikutinya. Kesepuluh Memusatkan perhatian pada tujuan utama ilmu. Dunia dan seisinya beserta tubuh ini sudah selayaknya dijadikan kendaraan’ untuk menggapai tujuan utama ilmu yang kita pelajari kelak, yaitu Allah SWT dan tidak ada apapun selain Allah SWT. KEWAJIBAN SEORANG GURU Seseorang yang dikaruniai ilmu yang mendalam, dicerminkan dengan tindakan yang mulia dan mengajarkannya kepada orang lain dipandang lebih mulia daripada para malaikat langit dan bumi. Mereka ini diibaratkan seperti matahari yang menyinari diri sendiri dan memberikan sinarnya kepada alam semesta. Manusia seperti ini laksana kesturi, ia sendiri berbau harum namun juga menebarkan keharumannya kepada orang lain. Orang seperti inilah yang layak dijadikan Guru. Pertama Memperlihatkan kebaikan, simpati dan bahkan empati kepada para muridnya dan memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri. Seorang Guru adalah sebab dari kehidupan kekal kelak. Karena ajaran para Guru inilah murid akan mengetahui dan ingat akan kehidupan akhirat. Seorang Guru dinilai akan membinasakan diri dan juga muridnya apabila ia mengajar demi dunia ini. Guru yang berorientasi akhirat tidak akan punya rasa benci, iri dan dengki terhadap muridnya dan siapapun juga. Kedua Mengikuti teladan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Ia tidak boleh mencari imbalan dan dan upah di dalam mengajar selain mendekatkan diri kepada Allah dan mentauladani apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Ketiga Tidak boleh menyembunyikan nasihat atau ajaran untuk diberikan kepada murid-muridnya. Setelah selesai menyampaikan ilmu-ilmu lahiriyah, seorang Guru haruslah menyampaikan ilmu-ilmu batiniah bahwa tujuan Pendidikan adalah mendekat kepada Allah SWT, bukan mengejar kekuasaan atau kekayaan. Keempat Mencegah murid-muridnya dari memiliki watak dan perilaku jahat dengan penuh kehati-hatian dan dengan cara sindiran, dengan cara simpati bukan keras dan kasar. Kelima Tidak boleh merendahkan ilmu lain dan Guru lain dihadapan para muridnya. Seharusnya Guru suatu ilmu tertentu menyiapkan murid-muridnya untuk belajar lanjutan ilmu-ilmu lainnya dan seterusnya, sehingga tidak punya waktu untuk menceritakan hal yang tercela terkait ilmu lain dan Guru lain. Keenam Mengajarkan murid-muridnya hingga batas kemampuan pemahaman mereka. Apa yang diketahui seorang Guru tidak mesti semuanya disampaikan kepada murid-muridnya sekaligus. Kebijaksanaan lebih bernilai daripada permata sekalipun. Ada peringatan bahwa lebih baik menjaga ilmu dari orang-orang yang bisa menjadi hancur karena memilikinya. Memberikan sesuatu kepada orang yang tidak berhak atas suatu ilmu sama atau tidak memberikannya kepada orang yang berhak adalah sama-sama zalim. Ketujuh Mengajarkan kepada para murid yang terbelakang hanya sesuatu yang jelas dan sesuai dengan tingkat pemahamannya yang terbatas tersebut. Orang acapkali mengira bahwa kebijaksanaan, ilmu dan tindakannya sempurna. Orang terbodoh adalah orang yang merasa puas dengan diri dan pengetahuannya serta menganggap bahwa akalnya sempurna. Kedelapan Guru haruslah mempraktekkan apa yang diajarkan dan tidak boleh berbohong dengan apa yang disampaikannya. Guru dapat diibaratkan seperti tongkat dan murid adalah bayangan dari tongkat tersebut. Bagaimana mungkin bayangan sebatang tongkat bisa lurus apabila tongkat itu sendiri bengkok? اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ Klik disini apabila ingin memiliki kitabnya
Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free 150 ANALISIS MATERI AKHLAK MENGENAI ADAB GURU DAN ADAB MURID DALAM KITAB BIDAYATUL HIDAYAH UNTUK MEMBINA KARAKTER SISWA MI Iim Fitriyani1.. Asis Saefuddin 2. Sani Insan Muhamadi 3 1Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung 2Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung 3Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung E-Mail Iimfitiyani05 Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya adab di kalangan pelajar dan pendidik di Indonesia. Banyak kasus-kasus yang beredar di beberapa tayangan televisi dan media cetak tentang banyaknya pelajar yang tidak mempunyai sopan santun kepada gurunya dan berbagai tindakan menyimpang guru terhadap muridnya. Tujuan penelitian ini adalah agar guru dan murid mampu menerapkan adab-adab dalam kitab Bidayatul Hidayah, terutama di lingkungan sekolah. Metode yang digunakan adalah metode kepustakaan Library research. Metode ini merupakan metode yang berkaitan dengan pengumpulan data dengan cara membaca, menelaah, menganalisis dan lebih menekankan pada analisis yang bersifat deskriptif, teoritis dan filosofis serta tidak perlu turun ke lapangan untuk mengumpulkan data. Hasil penelitian ini menunjukkan ada beberapa adab yang harus dimiliki oleh seorang guru dan murid berdasarkan dalam kitab Bidayatul Hidayah. Selain itu, seorang guru Muallim harus memiliki sifat yang berwibawa dan mampu membimbing muridnya. Sedangkan KD dan KI yang ada di dalam buku Akidah akhlak kelas satu MI menunjukkan kesesuaian kitab Bidayatul Hidayah mengenai adab-adab yang harus dilakukan oleh seorang murid kepada gurunya, dengan materi akidah akhlak yang ada di Madrasah Ibtidaiyah kelas satu ini. Kitab bidayah bisa digunakan sebagai bahan ajar di sekolah. Hal ini dapat diimplementasikan ketika proses belajar mengajar, seperti berbicara saat diskusi dan bertanya. Kata kunci Adab Guru dan Murid, Kitab Bidayatul Hidayah, Membina Karakter Siswa MI Abstract This research was motivated by the low level of manners among students and teachers in Indonesia. Many cases are circulating on several television shows and printed media about, many students who do not have manners to their teachers and also several teachers’ deviant behaviors towards their students. The aim of this research was to make teachers and students be able to apply the manners contained in Bidayatul Hidayah book, especially in the school environment. The method used was library research method. This method is a method related to data collection by reading, studying, analyzing and more emphasizingAL-TARBIYAH JURNAL PENDIDIKAN The Educational Journal Vol. 30 No. 2, December 2020 Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-160 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 151 on the analysis that is descriptive, theoretical and philosophical in nature and going to the field to collect data is not needed. The results of this study indicate that there are several manners that must be possessed by teachers and students according to Bidayatul Hidayah book. Beside that, a teacher Muallim must have an authoritative character and be able to guide his students. Meanwhile, the Basic Competencies KD and Core Competencies KI in the first grade of Madrasah Ibtidaiyah's Akidah morals book show the suitability of the Bidayatul Hidayah book regarding the manners that must be carried out by a student to his teacher, with the material of akidah morals in the first grade of Madrasah Ibtidaiyah. Bidayah book can be used as a teaching material at school. This can be implemented during the teaching and learning process, such as speaking in discussions and asking questions. Keywords Manners of teachers and students, Bidayatul Hidayah book, Guiding characters of Madrasah Ibtidaiyah’s students PENDAHULUAN Pendidik dan peserta didik memiliki peran yang sangat penting dalam keberlangsungan pendidikan, dan merupakan kunci bagi berlangsungnya kegiatan pendidikan. Meskipun tidak tersedia bangunan kelas, laboratorium, gedung olah raga dan peralatan sekolah yang cukup memadai, proses pendidikan akan tetap berjalan meskipun melewati beberapa kendala. Namun, apabila tidak ada pendidik dan peserta didik, proses pendidikan tidak akan berlangsung Nata, 2001. Pendidik merupakan orang yang memberikan sesuatu berupa ilmu pengetahuan, pengalaman, keterampilan, kepada seseorang di lingkungan sekitar, baik lingkungan sekolah, keluarga ataupun masyarakat Maragustam, 2010. Pendidik menjadi unsur penunjang berhasilnya proses pembelajaran dan akan menghasilkan generasi yang unggul dan peserta didik murid. Keduanya merupakan komponen yang sangat penting dalam suatu lembaga Pendidikan. Salah satu aspek yang berkaitan dan harus diperhatikan adalah adab. Adab merupakan salah satu inti dari pendidikan karena apabila kita menggunakan adab dalam kehidupan maka nilai kebaikan akan tertanam dalam diri kita dan akan menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur Al-Attas, 1992. Hubungan antara guru dan murid memiliki peran yang sangat penting bagi berlangsungnya proses pembelajaran dan tercapainya tujuan pendidikan dan menciptakan generasi yang bekarakter. Hubungan yang harmonis antara guru dan murid pada saat proses pembelajaran berlangsung diperlukan, begitupun sebaliknya. Dengan demikian baik guru maupun murid harus memakai adab atau etika baik pada saat pembelajaran berlangsung maupun di luar jam pelajaran Abdullah, 2016. Adab dan akhlak merupakan satu kesatuan yang yang saling berkaitan. Apabila kita memiliki adab yang baik, baik itu kepada Allah Swt, orang tua, guru dan kepada saudara kita yang lain, akhlak yang kita miliki akan baik. Dengan adab seseorang muslim akan terlihat mulia dihadapan Allah SWT dan Rasul-Nya begitupun di hadapan manusia. Hanafi, 2017. Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Abdullah, 2016 jelas bahwa suatu pendidikan Islam memiliki empat unsur yaitu pendidik, peserta didik, tujuan dari pendidikan itu sendiri, serta adab yang digunakan dalam proses pembelajaran tersebut. Unsur-unsur tersebut merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Apabila salah satu dari ke-empat unsur tersebut tidak ada atau hilang Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-159 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 152 maka suatu pendidikan tidak akan berjalan dengan lancar dan hilang pula hakikat dari pendidikan itu sendiri. Kurangnya adab pada zaman sekarang ini berpengaruh terhadap karakter siswa. Banyak sekali kasus-kasus yang beredar di beberapa tayangan di televisi dan media cetak mengenai perilaku atau perbuatan-perbuatan yang tidak bermoral, misalnya perbuatan yang dilakukan oleh seorang guru ataupun seorang murid seperti banyaknya siswa maupun mahasiswa yang tidak mempunyai sopan santun dalam berbicara kepada gurunya, berperilaku menyimpang, dan memakai pakaian yang tidak sesuai dengan anjuran Islam, dan melanggar akhlak. Hal ini menunjukan kurangnya moral, akhlak dan adab seseorang Noer & Sarumpaet, 2017. Perbuatan tersebut sangat menunjukan kurangnya bimbingan karakter ataupun akhlak yang dimiliki oleh seseorang. Karena selama ini proses pembelajaran yang berlangsung lebih menitik beratkan pada kemampuan kognitif saja, ranah karakter tidak diperhatikan dengan sangat jeli Ainiyah, 2013. Menurut Muhamadi, 2015 krisis karakter masih menjadi permasalahan utama bangsa ini, karena pembinaan moral yang kurang dan lunturnya sikap kepedulian sosial. Salah satu yang harus bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah tersebut selain orang tua yaitu lembaga pendidikan. Pengembangan karakter moral pribadi anak merupakan prasyarat penting untuk kelanjutan peradaban, dan pendidikan merupakan komponen pentig dari proses tersebut Gogo, 2020. Kita dapat melihat kasus-kasus yang terjadi akibat tidak adanya adab atau sopan santun yang baik, baik dari seorang guru ataupun murid, sehingga interaksi antara guru dan murid tidak berlangsung baik dan akan mengganggu proses dan tujuan pembelajaran. Ada guru yang berbuat tidak pantas kepada muridnya, ada yang menyiksa muridnya. Begitupula dengan murid yang berkelahi dengan sesama temannya dan ada juga murid yang meyiksa guru nya. Hal ini sudah sangat jelas bahwa kurangnya adab yang mereka miliki, sehingga berdampak pula pada perilaku atau karakter yang dimiliki oleh setiap individu. Diantara contoh yang menunjukan kurangnya hubungan yang baik antara guru dan murid yang terjadi disekitar kita, misalnya seorang Guru SMAN 1 Torjun yang tewas akibat dipukuli oleh muridnya Ramadhan, 2018. Hal ini bukan sepenuhnya kesalahan siswa tetapi ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, misalnya, kurangnya guru dalam melakukan pendekatan kepada siswa yang memiliki perilaku menyimpang. Pembahasan adab guru dan murid telah banyak dilakukan oleh para ilmuwan Islam terdahulu, salah satunya ialah Imam Al-Ghazali yang membahas tentang adab guru dan murid dalam kitab yang di tulisnya yaitu Bidayatul Hidayah. Kitab Bidayatul Hidayah ini membahas tentang amalan-amalan yang harus dilaksanakan oleh umat muslim dengan diperkuat oleh ilmu tasawuf. Maka dari itu penulis tertarik untuk mengkaji ulang pemikiran dari Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah mengenai adab yaitu sopan santun berinteraksi yang harus dilakukan oleh guru maupun murid pada saat pembelajaran maupun diluar pembelajaran, agar tujuan pendidikan dapat berjalan lancar dan menciptakan generasi yang berkarakter. METODE PENELITIAN Pada penelitian ini pendekatan yang digunakan peneliti adalah pendekatan kualitatif. Penelitian kualitiatif merupakan penelitian yang berlandaskan pada teori-teori naturalistik yang artinya penelitian yang dilakukan pada kondisi alamiah dan peneliti berperan sebagai instrumen Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-159 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 153 kuncinya dan tidak dapat diselesaikan dengan uji statistik Sugiyono, 2017. Sedangkan metode yang digunakan peneliti adalah metode kepustakaan Library research. Metode kepustakaan ini merupakan metode yang berkaitan dengan pengumpulan data dengan cara membaca, menelaah, menganalisis, dan pengolahan dengan menggunakan metode kepustakaan ini lebih menekankan pada analisis yang bersifat deskriptif, teoritis dan filosofis. Dalam metode kepustakaan ini peneliti tidak perlu turun ke lapangan untuk dapat menghasilkan dan mengumpulkan data. Peneliti cukup menggunakan bahan-bahan kepustakaan seperti buku ataupun bahan kepustakaan yang lainnya sebagai data untuk diteliti. Instrumen utama pada penelitian ini adalah manusia sebagai peneliti yang artinya peneliti harus memperhatikan kemampuan yang dimilikinya dalam hal bertanya, mencari tahu, melacak, mengamati bahkan memahami suatu objek yang akan diteliti Zed, 2008. Jenis data dalam penelitian ini merupakan data kualitatif. Data kualitatif ini merupakan data yang disajikan dengan berbentuk narasi atau uraian bukan dalam bentuk angka yang dapat diuji dengan melalui prosedur statistik Helaluddin & Wijaya, 2019, sedangkan sumber datanya bersumber dari data primer dan skunder. Ddata primernya adalah kitab Bidayatul hidayah dan data sekunder dalam penelitian ini akan lebih banyak menggunakan sumber-sumber berupa buku dan jurnal yang berkaitan dengan penelitian Sugiyono, 2017. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik studi dokumentasi, dimana teknik ini dilakukan dengan cara menganalisis dokumen ataupun kuisioner, yang berupa studi dokumentasi. Studi dokumentasi ini merupakan sumber dokumen yang berbentuk sumber tertulis, file, gambar foto, karya-karya yang berkaitan dengan penelitian dan mampu memberikan informasi bagi proses penelitian. Penggunaan dokumen ini, berkaitan dengan content analysis isi dan makna dari sebuah dokumen. Menurut menurut Bungin 2008 penggunaan dokumen serta pemanfaataannya dari dokumen tersebut sangat bepengaruh dalam proses penelitian dan dapat menentukan tingkat kredibilitas suatu hasil penelitian kualitatif. Untuk memvalidasi data yang digunakan, triangulasi sumber digunakan. Triangulasi sumber bertujuan untuk mengecek dan mengetahui data yang telah diperoleh dari beberapa sumber yang ada. Tahapan yang terakhir adalah teknik dalam menganalisis data. Tahapan tersebut terdiri dari reduksi data mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskaan pada hal-hal penting, dicari tema dan polanya, penyajian data dan penarikan kesimpulan dari data yang telah diolah Sugiyono, 2017. HASIL DAN PEMBAHASAN Kitab Bidayatul Hidayah di tulis oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali, Imam Al-Ghazali merupakan seorang tokoh pemikir muslim yang hidup pada bagian akhir dari zaman keemasan di bawah khilafah Abbasiyah yang berpusat di Bagdad. Imam Al-Ghazali memiliki nama lengkap Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad bin Muhammad Thaus Ahmad al-Thusi Al-Syafi’i. Ia terkenal dengan sebutan Hujjatul islam dan zainuddin yang mempunyai arti “kebenaran Islam”. Al-Ghazali diberi gelar al-imam karena beliau merupakan sosok ulama yang menjadi panutan, contoh, dan teladan bagi banyak orang. Gelar al-Imam al-allamah ini menunjukan bahwa tingkat keilmuan yang dimiliki oleh Al-Ghazali tidak hanya alim tetapi juga beliau merupakan Al-allamah yang mampu menguasai berbagai bidang, sedangkan gelar Hujjatul Islam menunjukkan bahwa imam Al-Ghazali merupakan sosok yang mempunyai pengetahuan yang luas Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-159 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 154 mengenai sunnah-sunnah Nabi Nasif, 2018. Selain mengemban amanah sebagai guru besar dan seorang sufi, imam Al-Ghazali merupakan seorang penulis yang luar biasa sehingga menciptakan karya-karya yang sangat luar biasa dan sangat produktif. Pada dasarnya tidak terlalu pasti berapa jumlah buku-buku atau karya yang ditulis oleh imam Al-Ghazali tetapi sebagian penelitian mengatakan hampir 100 buku tentang ilmu pengetahuan yang ditulis oleh Imam-al-Ghazali, diantaranya seperti ilmu kalam, ilmu fikih, ilmu tasawuf, ilmu filsafat akhlak dan autobiografi. Kitab Ihyaul Ulumuddin dan Bidayatul Hidayah merupakan salah dua kitab yang sangat terkenal yang dikarang oleh Imam Al-Ghazali. Kitab Bidayatul Hidayah ini sering disebut sebagai pembukaan, permulaan atau dalam bahasa arab sering disebut dengan muqadimah dari kitab Ihya Ulumuddin. Dalam kitab Bidayatul Hidayah ini Imam Al-Ghazali ingin menunjukan kepada kita selaku umat muslim mengenai permulaan-permulaan hidayah, agar dapat melatih hawa nafsu dengan baik dengan mengamalkan seluruh isi kitab dan mampu mengukur pengakuan kita dengan cara istiqamah terhadap ajaran-ajaran yang terkandung dalam kitab Bidayatul Hidayah yang kemudian diimplementasikan atau diamalkan dalam kehidupan sehari hari dan juga melalui majelis-majelis ilmu agar seluruh umat muslim mengetahui hal apa saja yang harus dilakukan sebagai seorang muslim Mutamakkin, 2012. 1. Adab guru dan murid dalam kitab Bidayatul Hidayah Dalam kitab Bidayatul Hidayah Mutamakkin, 2012 ada beberapa adab yang harus diterapkan oleh seorang guru dan murid, terutama pada saat pembelajaran. Berikut ini merupakan adab-adab yang harus amalkan oleh seorang guru dan murid pada bagian ke tiga dalam kitab Bidayatul hidayah mengenai beradab kepada Allah swt dan bergaul dengan para makhlik-Nya yang didalamnya terdapat adab seorang guru dan murid. Adab tersebut seperti ditampilkan dalam tabel berikut ini. Tabel 1. Adab guru dalam kitab Bidayatul Hidayah Adab Guru dalam Kitab Bidayatul Hidayah . Seorang guru harus selalu bersabar atas kejadian yang terjadi pada saat pembelajaran Selalu bersikap tenang dalam kondisi apapun . Selalu duduk dengan terhormat dan berwibawa serta menundukan kepalanya. Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-159 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 155 Adab Guru dalam Kitab Bidayatul Hidayah meninggalkan sikap takabur sombong dan bersikap tawadhu, terkecuali kepada orang-orang yang berbuat dzalim. . Tidak bercanda dan bermain main ketika proses belajar mengajar Bersikap lemah lembut kepada murid. Selalu mengingatkan dan membimbing para siswanya yang belum mengerti dan memahami yang telah disampaikan dan tidak boleh marah kepada siswa yang belum memahami Tabel 2. Adab murid dalam kitab Bidayatul Hidayah Adab Murid dalam Kitab Bidayatul Hidayah Mendahului mengucapkan salam dan memberikan penghormatan Menyedikitkan berbicara dihadapan gurunya Tidak boleh bertanya ketika seorang guru sedang berdiri ataupun sedang berjalan. Tidak boleh berbicara sebelum guru bertanya Dan tidak boleh bertanya sebelum meminta izin kepadanya Tidak boleh menyampaikan perkataan yang menentang pendapat guru Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-159 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 156 Adab Murid dalam Kitab Bidayatul Hidayah Tidak bermusyawarah dengan seseorang dihadapan guru dan tidak menoleh ke berbagai arah Jangan berburuk sangka dan membicarakan rahasia guru Ketika seorang guru bangkit dari tempat duduknya, maka seorang murid tidak boleh menarik bajunya Tidak mencari kesalahan-kesalahan guru Seorang murid ikut berdiri ketika guru berdiri, seolah-olah memberi penghormatan Tidak banyak tertawa dan tersenyum di hadapan seorang guru dalam kondisi apapun Selalu memuliakan guru dalam kondisi apapun Senantiasa memaafkan guru ketika melakukan kesalahan, karena sorang guru juga manusia dan pasti melakukan kesalahan 2. Kesesuaian Materi Akhlak Mengenai Adab Guru dan Murid Dengan Materi Akidah Akhlak di MI Kelas 1 satu Adab guru dan murid pada dasarnya memang harus dipelajari dan diterapkan pada saat proses pembelajaran. Hal ini juga berkaitan dengan materi akidah akhlak yang ada di kelas satu Madrasah Ibtidaiyah yaitu pada Kompetensi Inti KI 2. memiliki prilaku jujur, disiplin, tanggung jawab , santun, peduli dan percaya diri dengan berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru dengan Kompetensi Dasar KD Membiasakan sikap ramah dan sopan terhadap orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya pada KI 3. siswa diharapkan memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati mendengar, melihat, membaca dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah dengan KD siswa memahami sikap ramah dan sopan santun terhadap orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari. Pada KI 4. siswa menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-159 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 157 yang estetis, dalam perbuatan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia dengan KD siswa mencontohkan sikap ramah dan sopan santun terhadap orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari juga menunjukkan kesesuaian antara materi akidah akhlak dengan adab guru dan murid. Dari pemaparan tersebut siswa diajarkan untuk bersikap sopan terhadap guru dan orang tua, hal ini sesuai dengan bagian ketiga dalam kitab Bidayatul Hidayah mengenai adab-adab yang harus dilakukan ketika berinteraksi dengan Allah SWT dan makluk-Nya, seperti halnya seorang murid kepada gurunya. Hal ini menunjukkan kesesuaian antara materi akidah akhlak di MI dengan bagian ketiga dalam kitab Bidayatul Hidayah mengenai adab-adab yang harus dilakukan ketika berinteraksi dengan Allah Swt dan makluk-Nya terutama adab guru dan murid dalam kitab Bidayatul Hidayah serta beradab kepada orang tua. Dengan materi akidah akhlak yang ada di Madrasah Ibtidaiyah kelas satu, otomatis kitab Bidayah dapat digunakan sebagai bahan ajar di sekolah. 3. Implementasi Adab Guru dan Murid dalam Kitab Bidayatul Hidayah terhadap Pembinaan Karakter di Sekolah Implementasi adab murid dalam pembinaan karakter di sekolah pada saat proses pembelajaran diantaranya a. Saat berdiskusi dengan seorang guru, berdiskusi dengan guru merupakan salah satu hal yang harus dilakukan oleh seorang siswa agar mampu mengetahui informasi yang baru dan mampu memecahkan masalah sama-sama. Diskusi ini merupakan salah satu tahapan dari saintifik learning, dari mulai mengamati pembelajaran, bertanya kemudian diskusi. Dalam diskusi tidak hanya diskusi saja tetap ada hal-hal yang harus diperhatikan oleh siswa. Hal ini seperti yang tertera dalam kitab Bidayatul Hidayah halaman 93 yaitu pada saat berdiskusi siswa tidak boleh menyalahkan apa yang di paparkan oleh seorang, berkomentar boleh asalkan atas izin dari guru. Hal tersebut harus diterapkan agar diskusi berjalan dengan lancar. b. Saat bertanya pada saat proses pembelajaran, bertanya merupakan salah satu hal yang sangat dianjurkan dalam proses pembelajaran, karena bertanya bisa membantu memahami hal yang belum dipahami. Tidak hanya itu, bertanya juga merupakan salah satu bagian dari saintifik learning. Dalam hal ini seorang murid tidak seenaknya dalam bertanya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat ingin bertanya kepada guru seperti seorang murid tidak boleh bertanya sebelum guru memerintakahkan untuk bertanya, ketika ingin bertanya alangkah baiknya murid mengacungkan tangan sebagai tanda bahwa murid meminta izin untuk bertanya. c. Ketika pembelajaran berlangsung, seorang murid sangat tidak dianjurkan untuk mengobrol dengan teman sebangkunya apalagi disertai dengan suara yang bergemuruh sehingga bisa mengganggu orang lain. Hal ini harus diperhatikan sekali karena kebanyakan siswa sering melakukan tindakan sepert itu dan memang harus ada ketegasan dan contoh dari tenaga pendidiknya. Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-159 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 158 SIMPULAN Kitab Bidayatul Hidayah membahas beberapa adab yang harus dimiliki dan diterapkan oleh seorang guru. Adapun adab-adab yang harus diperhatikan oleh seorang guru diantaranya pertama seorang guru harus selalu bersikap sabar atas kejadian yang terjadi pada saat pembelajaran, kedua guru selalu bersikap tenang dalam kondisi apapun, ketiga selalu duduk dengan terhormat serta menundukan kepalanya, yang ke empat guru menjadi sosok guru yang mempunyai wibawa, kelima guru meninggalkan sikap takabur sombong dan harus bersikap tawadhu, terkecuali kepada orang-orang yang berbuat dzalim, keenam guru tidak bercanda dan bermain main ketika proses belajar mengajar, ketujuh bersikap lemah lembut kepada murid seolah-olah mereka adalah anak sendiri, dan kedelapan guru selalu mengingatkan dan membimbing para siswanya yang belum mengerti dan memahami materi yang telah disampaikan. Sedangkan adab yang harus dimiliki oleh seorang murid dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya pertama salam kepada seorang guru, kedua adab berbicara terhadap gurunya, ketiga adab adab bertanya kepada guru, keempat adab ketika berdiskusi dengan guru, kelima adab bhatiniyah terhadap guru, dan keenam adab lahiriah ketika seorang murid berada bersama sang guru. Adab adab tersebut bisa di implementasikan di sekolah pada saat proses pembelajaran berlangsung, seperti pada saat berdiskusi dengan tidak boleh menyalahkan apa yang guru katakan, berkomentar dan menyanggah diperbolehkan asalkan berdasarkan peraturan. Selanjutnya dalam bertanya kepada guru mengenai hal yang tidak dipahami, dalam hal ini murid tidak danjurkan untuk bertanya sebelum gurunya memang menawarkan dan mengizinkannya serta harus ditandai dengan mengacungkan tangan sebagai tanda penghormatan untuk bertanya, dan yang terakhir bisa diterapkan pada saat memperhatikan materi dari guru seorang murid tidak boleh mengobrol dengan teman sebangkunya. Selain itu, dengan menunjukan kesesuaian mengenai adab guru dan murid dalam kitab Bidayatul Hidayah dengan materi akidah akhlak yang ada di Madrasah Ibtidaiyah kelas satu ini, kitab bidayah bisa digunakan sebagai bahan ajar di sekolah. maka kitab bidayah bisa digunakan sebagai bahan ajar di sekolah DAFTAR PUSTAKA Abdullah. 2016. Adab Guru terhadap Murid dalam Persepektif Kitab Bidayatul Hidayah Karangan Imam Al-Ghazali Ainiyah, N. 2013. Pembentukan karakter melalui pendidikan agama Islam. Al-Ulum, 131, 25-38. Al-Attas, S. M. N. 1992. Konsep Pendidikan dalam Islam. Penerjemah Haidar Bagir. Bandung Mizan. Bungin, M. B. 2008. Penelitian Kualitatif Komunikasi, Ekonomi, Komunikasi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta Kencana. Gogo, J. O. 2020. The Contribution of Education to Moral Decay in Kenya Challenges and Prospects. International Journal of Educational Humanities and Social Science, 31, 20-32. Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-159 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 159 Hanafi, H. 2017. Urgensi Pendidikan Adab dalam Islam. Saintifika Islamica Jurnal Kajian Keislaman, 41, 59-78. Wijaya, H. 2019. Analisis Data Kualitatif Sebuah Tinjauan Teori & Praktik. Sekolah Tinggi Theologia Jaffray. Kemendiknas. 2010. Kerangka Acuan Pendidikan Karakter. Jakarta, Indonesia Kemendiknas. Maragustam Siregar. 2010. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta UIN Sunan Kalijaga. 35-36. Muhamadi, S., & Hasanah, A. 2019. Penguatan Pendidikan Karakter Peduli Sesama melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Relawan. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 161, 95-114. Mutamakkin, Y. A. 2012. Terjemah Kitab Bidayatul Hidayah. PT Karya Toha Pustaka semarang. Nasif, M. 2018. Bidayatul Hidayah Terjemah dan penjelasannya. Kediri Pustaka Isyfa"lana. Nata, A. 2001. Persefektif Islam tentang pola HUbungan Guru-Murid . Jakarta Raja Grafindo. Noer, M. A., & Sarumpaet, A. 2017. Konsep Adab Peserta Didik dalam Pembelajaran Menurut Az-Zarnuji dan Implikasinya terhadap Pendidikan Karakter di Indonesia. Al-Hikmah Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan, 142, 181-208. Raharjo, S. B. 2010. Pendidikan karakter sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 163, 229-238. Ramadhan, B. 2020, March 06. Guru Tewas Dianiaya Siswa, Indonesia Krisis Keteladanan. Retrieved from Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,Kualitatif dan R&D. Bandung Alpabheta. Zed, M. 2008. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta Yayasan Obor Indonesia. ... Diskusi merupakan sebuah metode pembelajaran yang sangat baik untuk diterapkan dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan. Walaupun demikian dalam berdiskusi hendaknya masingmasing peserta tetap memperhatikan adab-adabnya Fitriyani, 2020. Pertama memulai diskusi dengan mengutamakan sikap husnuzhan terhadap semua peserta, karena berbaik sangka akan membantu peserta diskusi bersikap lebih objektif terhadap pendapat orang lain. ...Erna DewitaFadil MaiseptianMurisal MurisalZuwirda ZuwirdaAllah SWT dan Rasul-Nya menyeru manusia kepada jalan kebaikan. Dalam menyampaikan seruan tersebut hendaklah dilakukan dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik. Cara tersebut dilakukan dalam bentuk pendidikan dan pelayanan bimbingan konseling. Pendidikan membentuk kepribadian manusia sehingga memiliki kematangan intelektual, emosional, spiritual maupun sosial. Bimbingan konseling merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk membantu menangani atau mengatasi masalah individu agar tercapai perkembangan potensi secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai pendidikan dan bimbingan konseling Islam dalam surat An-Nahl ayat 125. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode bil-hikmah bijaksana, al-mauidzah al-hasanah nasehat dan pelajaran yang baik, mujadalah billati hiya ahsan bertukar fikiran dalam pendidikan dan bimbingan konseling merupakan metode terbaik yang harus dipahami dan dipraktekkan oleh guru muupun konselor. Kata Kunci Pendidikan, Konseling, An-Nahl 125 Sani Insan MuhamadiAan HasanahThe purpose of this study is to reveal the results of character building process in caring for others through volunteer extracurricular activities. The method which is used is descriptive analytical with a qualitative approach. Data collection techniques are observation, interview and documentation studies. Findings of this study The process of strengthening character is carried out with routine training every week, monthly scheduled is cleaning river, mosques and the surrounding environment, and incidental activities to provide assistance to areas affected by natural and humanitarian disasters. The result is students show a stronger caring character. Supporting factors in strengthening the character are the vision and mission and also goals of the madrasa, exemplary teachers and staff, activities carried out in schools, and involvement in community activities. While the obstruct factors are the lack of funds to carry out activities, and the factor of parental permission in dissaster Budi RaharjoEducation is basically an effort to improve human resource capacity in order to become a man with characters and live independently. Based on this, the main problem in this study is whether moral education can realize the noble morality? From the formulation of the problem, the purpose of this study is to determine how education can affect noble morality. Building the national character through education is absolutely necessary, even can not be postponed. Character education can be effective and successful if performed integrally starting from the home environment, schools and communities. Characters that should be instilled to students include love of God and the universe and its contents, responsibility, discipline and self-reliant, honest, respectful and well mannered, affectionate, caring, and cooperation, confidence, creative, hard work and do not give up easily, fair and has a character of a leader, nice and humble, and tolerance, love peace and unity. While the noble morality is the overall human habit comes from within encouraged by conscious desire and reflected by good deeds. Thus, if the noble characters embedded in the learners themselves, noble character will automatically be reflected in the behavior of students in their daily life. ABSTRAK Pendidikan pada dasarnya adalah upaya meningkatkan kemampuan sumber daya manusia supaya dapat menjadi manusia yang memiliki karakter dan dapat hidup mandiri. Berdasarkan hal tersebut, yang menjadi permasalahan dalam kajian ini adalah apakah pendidikan karakter dapat mewujudkan akhlak mulia? Dari rumusan masalah tersebut, tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pendidikan karakter dapat mempengaruhi akhlak mulia. Membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan mutlak diperlukan, bahkan tidak bisa ditunda. Pendidikan karakter dapat berjalan efektif dan berhasil apabila dilakukan secara integral dimulai dari lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karakter yang harus ditanamkan kepada peserta didik di antaranya adalah; cinta kepada Allah dan alam semesta beserta isinya, tanggungjawab, disiplin dan mandiri, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerja sama, percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, dan toleransi, cinta damai dan persatuan. Sedangkan akhlak mulia adalah keseluruhan kebiasaan manusia yang berasal dalam diri yang di dorong keinginan secara sadar dan dicerminkan dalam perbuatan yang baik. Dengan demikian apabila karakter-karakter yang luhur tertanam dalam diri peserta didik maka akhlak mulia secara otomatis akan tercermin dalam perilaku peserta didik dalam kehidupan Pendidikan Adab dalam IslamH HanafiHanafi, H. 2017. Urgensi Pendidikan Adab dalam Islam. Saintifika Islamica Jurnal Kajian Keislaman, 41, Acuan Pendidikan KarakterKemendiknasKemendiknas. 2010. Kerangka Acuan Pendidikan Karakter. Jakarta, Indonesia Pendidikan Islam. Yogyakarta UIN Sunan KalijagaMaragustam SiregarMaragustam Siregar. 2010. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta UIN Sunan Kalijaga. Kitab Bidayatul Hidayah. PT Karya Toha Pustaka semarangY A MutamakkinMutamakkin, Y. A. 2012. Terjemah Kitab Bidayatul Hidayah. PT Karya Toha Pustaka Hidayah Terjemah dan penjelasannya. Kediri Pustaka Isyfa"lanaM NasifNasif, M. 2018. Bidayatul Hidayah Terjemah dan penjelasannya. Kediri Pustaka Isyfa" Islam tentang pola HUbungan Guru-Murid . Jakarta Raja GrafindoA NataNata, A. 2001. Persefektif Islam tentang pola HUbungan Guru-Murid. Jakarta Raja Tewas Dianiaya Siswa, Indonesia Krisis KeteladananB RamadhanRamadhan, B. 2020, March 06. Guru Tewas Dianiaya Siswa, Indonesia Krisis Keteladanan. Retrieved from nasional/politik/18/02/06/p3ppr033 0-guru-tewaMetode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,Kualitatif dan R&DSugiyonoSugiyono. 2017. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,Kualitatif dan R&D. Bandung Alpabheta.
A. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam pandangan islam,orang yang paling bertanggung jawab dalam perkembangan anak adalah orang tua,anak adalah bagian aset orang tua yang terpenting yang harus dirawat dan dijaga islam juga memandang pendidikan memiliki pengaruh yang besar dalam mengembangkan dan mengubah diri itu, kewajiban terpenting bagi orang tua terhadap anaknya adalah pendidikan,hal ini melibatkan beragam usaha dalam pengertian bahwa seluruh sikap dan tingkah laku orang tua harus diarahkan untuk memberikan pendidikan kepada anak secara tepat dan anak adalah merupakan wujud dari sikap dan prilaku orang tua,namun bila orang tua tidak ada waktu dalam memberikan pendidikan kepada anaknya,maka wajiblah orang tua memasrahkan kapada orang lain untuk mendidik anaknya,dalam hal ini adalah guru. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada 3tiga komponen yang tidak dapat dipisahkan diantara pendidikan bagi anak,yaitu Murid, Guru, dan orang tua. Dikatakan bahwa guru adalah Abu al-ruh atau abu fi ad-din bagi murid. Sedangkan orang tua adalah Abu al jasad bagi murid itu sendiri. Artinya bila seorang murid hendak mendapatkan ilmu manfaat derajat kemuliaan diakhirat, maka hendaknya berbakti sepenuhnya kepada guru,dan bila hendak mendapatkan kelapangan rizki maka hendaknya berbaktilah sepenuhnya kepada orang tua.[1] Guru adalah wakil dari orang tua,yang telah memasrahkan kepadanya dan juga merupakan faktor terpenting atas berhasil dan tidaknya murid dalam menekuni pendidikannya,karenanya guru juga ikut bertanggung jawab dalam mengoptimalkan upaya perkembangan seluruh potensi murid,baik potensi kognitif,psikomotorik, maupun afektif. Sesuai dengan nilai-nilai islam. Sehingga selain sebagai pengajar, guru juga sebagai pendidik yang bertugas sebagai motivator dan fasilitator dalam proses belajar mengajar, sehingga seluruh potensi murid dapat teraktualisasikan secara baik dan dinamis.[2] Islam sangat menghormati dan menghargai orang-oramg yang mengemban amanat dalam nasyri ilmi,dalam hal ini adalah guru, karena guru harus mampu dan berusaha sekuat tenaga dalam mencapai keberhasilan anak didiknya yang beriman menurut ukuran-ukuran moral dan etis. Selain guru, murid juga merupakan faktor penting dalam dunia pendidikan, tanpa murid maka tidak akan terlaksana proses pendidikan. Banyak terjadi pada masa lalu,alur dari pengembaraan pencarian ilmu yang tidak dapat dirasakan apalagi diserap dan diamalkan, hanya karena tidak tahu jalan untuk mendapatkan ilmu tersebut dan salah satu jalan untuk mendapatkan sebuah ilmu adalah membina hubungan, terlebih dalam adap dan tata krama antara murid dan guru. Etika atau adap maupun tata krama adalah istilah yang sama, untuk dipahami dan diresapi juga diamalkan oleh murid terhadap gurunya dan guru terhadap muridnya, apalagi di era globalisasi ilmu pengetahuan dan tehnologi berkembang sangat cepat dan hal ini juga menimbulkan perubahan-perubahan yang sangat cepat pula, dimana banyak dampak negatif terhadap murid, yang dalam hal ini murid sudah berani meninggalkan etika terhadap gurunya. Satu contoh murid sudah berani menyamakan guru pada posisi temannya dan banyak murid yang meremehkan gurunya. Sebaliknya pada masa sekarang tidak sedikit guru yang memberika hukuman terhadap muridnya, berbuat tidak senonoh dan sebagainya, padahal bila guru kencing sambil berdiri, maka murid akan kencing sambil berlari dan yang perlu kita ingat bahwa guru harus dapat digugu dan ditiru.[3] Untuk itu seorang guru harus dapat melaksanakan wadzifahnya dengan baik, selain penguasaan bahan dan materi seorang guru harus dapat dibuat contoh dan suri tauladan anak didiknya. Atas dasar tersebut banyak ahli pikir salaf membahas tentang etika murid dan guru dalam mencapai kesuksesan pembelajaran. Salah satunya Hujjah Al-Islam Imam Ghozali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin. Dalam konteks ini, maka mencernati, memahami, dan mengevaluasi pemikiran al-Ghozali tentang adap murid dan guru adalah menarik untuk dibahas. B. PENEGASAN ISTILAH Agar dapat dipahami dengan baik dan tidak mengaburkan pembahasan, maka kiranya penulis berikan batasan dan penegasan istilah yang akan dipakai dalam skripsi tentang pemikiran Al-Ghozali tentang Adap Murid dan Guru Dalam Kitab Ihya’ Al-Ulumuddin juz I. 1. Al-Ghozali Al-Ghozali adalah salah satu ulama’ klasik yang hidup antara tahun 450-505 / 1058 – 1111 M. Beliau mempunyai nama lengkap Al-Imam Zainuddin Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Al-Ghozali Ath-Thusi An-Naisaburi Al Faqih Ash-Shufi Asy-Syafi’ Al-Asy’ari.[4] 2. Adap Murid Dalam kamus bahasa Indonesia terbaru, Adab adalah kesopanan.[5] Sedangkan yang dimaksud adap murid disini adalah etika atau yang harus dimiliki oleh seorang murid atau siswa peserta didik yang menimba ilmu-ilmu agama atau yang belajar di lembaga-lembaga pendidikan islam. 3. Guru Dalam bahasa indonesia terbaru, guru adalah orang yang kerjanya mengajar.[6] Sdangkan yang dimaksud guru disini adalah orang yang mengajar ilmu-ilmu agama islam di lembaga-lembaga pendidikan islam. 4. Kitab Ihya’ Al-Ulumuddin Adalah salah satu kitab karya imam Al-Ghozali, yang menjelaskan beberapa hal , antara lain hal ibadah, adab mu’amalat, ilmu, munjiyat, hikmah, pendidiksn dan yang lainya secara lengkap.[7] Jadi yang penulis maksud dengan judul “konsepsi Al-Ghozali Tentang Adap Murid dan guru dalam kitab ihya’ ulumuddin juz I” adalah etika seorang guru dan murid dalam proses belajar keberhasilan suatu pembelajaran itu tergantung bagaimana membina hubungan antara guru dan murid, terlebih terhadap adap dan tata krama diantara keduanya, maka hal ini akan ditemukan gambaran secara utuh dan komprehensif tentang konsep dan pemikiran Al-Ghozali berkaitan dengan adap murid dan guru dalam proses belajar mengajar tersebut dalam kitab karangannya yaitu kitab ihya’ ulumuddin. C. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian diatas, maka pokok masalah yang mucul adalah sejauh mana hubungan murid dan guru hingga dapat menghasilkan ilmu yang dapat dirasakan dan dinikmati baik di dunia maupun di akhirat, juga oleh guru dalam mentransfer ilmu dapat diterima murid dengan baik ,hingga dapat mengamalkannya. Menurut Imam Ghozali, untuk mencapai jawaban atas pokok masalah tersebut, maka pertanyaan dibawah ini perlu diangkat sebagai sarana untuk menjawab pokok masalah tersebut, yaitu sebagai berikut 1. Bagaimana konsep adap murid menurutimam Al-Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin juz 1? 2. Bagaimana konsep adab guru menurut imam Al-Ghozali Ihya’ Ulumuddin Juz 1? 3. Apa relevansi konsep adap murid dan guru dalam pencapaian belajar mengajar dewasa ini di indonesia, terutama dalam nilai-nilai adab ? D. TUJUAN PENELITIAN Adapun yang menjadi tujuan penelitan dalam penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut 1. Untuk memahami konsep adap murid menrut Al-Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin juz 1. 2. Untuk memahami konsep adap guru menurut Al-Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin juz 1. 3. Untuk menemukan relevansi konsep adap murid dan guru menurut al-Ghozali dengan pendiikan adap di indonesia saat ini. E. MANFAAT PENELITIAN Adapun manfaat atau kegunaannya,anatara lain 1. Secara teoritik, dapat menyumbangkan khazanah intelektual islam khususnya dalam pendidikan islam 2. Secara praktis, dapat memberi wawasan dan pedoman bagi para peserta didik, baik murid maupun guru dalam rangka mencari pola hubungan yang ideal berbasis adab islami. F. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian adalah 1. Jenis dan pendekatan penelitian Jenis penelitian ini merupakan library research penelitian pustaka, yaitu suatu uasaha untuk memperoleh data atau informasi yang diperlukan serta menganalisis suatu permasalahan melalui sumber-sumber kepustakaan, penulis menggunakan study kepustakaan atau library research ini dimaksudkan untuk memperoleh dan menela’ah teori-teori yang berhubungan dengan topik dan sekaligus dijadikan sebagai landasan teori.[8] Sebagai penelitian yang bercorak analisis kritis terhadap pemikiran seorang tokoh, maka penelitian ini menggunakan pendekatan historis atau pendekatan sejarah, yaitu penyelidikan yang kritis terhadap keadaan-keadaan, perkembangan-perkembagan, serta pengalaman dimasa lampau dan menimbang secara cukup teliti dan hati-hati tentang bukti validitas dari sumber sejarah serta interpretasi dari sumber-sumber keterangan tersebut,[9] sehingga setting sosial intelektual dimana ia hidup dalam hal ini pemikiran Al-Ghozali tentang adap murid dan guru menjadi faktor penting dalam penelitian ini. 2. Sumber data Jenis penelitian ini adalah library research penelitian pustaka, maka data yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka adalah berupa sumber data primer dan sumber data sekunder, yaitu sebagai berikut a. Sumber data primer data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat pengambilan data langsung pada subjek informasi yang di cari.[10] sumber data primer dalam penelitian ini meliputi satu kitab yakni kitab ihya’ ulumuddin, juz awal, rubu’ pertama, bafian al-ilm,bab khomis, tentang adap murid dan guru, hal 43-52, karya Hujjah AL –islam Abu Hamid Al-Ghozali. b. Sumber data skunder data skunder adalah data yang di peroleh dari pihak lain, tidak langsung dari subjek penelitiannya, tetapi dapat mendukung atau berkaitan dengan tema yang diangkat.[11] Dalam penelitian ini data skundernya adalah antara lain Ta’limul mutallim karya Syeh Az-Zarnuji,Syarah Ta’limul Muta’alim karya Syeh Ibrahim Bin Ismail,Adabul Adim Wal Muta’allim karya Syeh Hasyim Asy’ari,Ad-Durroh Al-Mafakhiroh,Ithaf as-Sadah al –Muttaqin,Ayyuhal Walad al-Mhib karya Al-Ghozali,Tokoh-tokoh pendidikan islam di zaman jaya karya H. Nasruddin Thoha dan yang lainnya. 3. Tehnik pengumpulan data Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan, dalam hal ini akan selalu ada hubungan antara tehnik pengumpulan data dengan masalah penelitian yang ingin di data tak lain adalah suatu proses pengadaan data untuk keperluan penelitian. Adapun cara pengumpulan data dalam penelitian ini, penulis menggunakan tehnik dokumenter,tehnik dokumenter merupakan cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis,seperti arsip-arsip,dalil atau hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian,[12] yakni penulis mengumpulkan buku-buku yang yang ada hubungannya dengan pembahasan penulisan skripsi, dalam hal ini adalah kitab ihya’ ulumuddin juz I sebagai sumber utama,penelitian kepustakaan dengan menganalisa terhadapnya dan sumber lain yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan pembahasan, yaitu adab murid dan guru menurut pandangan Al-Ghozali dalam kitab ihya’ uluddin juz I. 4. Tekhnik Analisis Data Dalam analisis data, penulis menggunakan metode diskriptif analisis yaitu, suatu usaha untuk mengumpulkan data dan menyusun data kemudian diusahakan adanya analisis dan interpretasi atau penafsiran terhadap data tersebut.[13] Dalam hal ini dimaksudkan untuk membuka pesan yang terkandung dalam bahasa teks, terutama kitab ihya’ ulumuddin bagian bab adab al-alim wal mutaaliim. Selanjutnya untuk mengkaji relevansi konsep adap hubungan murid dan guru menurut Al-Ghozali dengan pendidikan moral dan etika di indonesia saat ini, dilakukan analisis komparasi atau perbandingan yaitu, membandingkan terhadap beberapa segi data lain, situasi lain, dan konsepsi filosofi lain.[14] Untuk membandingkan antara konsep etika tersebut dengan kondisi pendidikan di indonesia saat ini. Jepara,07 November 2011 peneliti [1] AL-Zarmuji,Ta’limul muta’allim Semarang, Usaha Keluarga [2] Piet A Sehertian,Ida A Sehertian,Supervisi pendidikan, Jakarta Rienika Cipta, 1992, hlm 39 [3] Abi Hamid al –Ghozali 2 , Ihya’ Ulumuddin, Mesir Maktabah Isa al-Baby, [4] Al-Ghozali 3, Al-durroh Al-Fakhiroh, Bairut Mu’asasah Al-kutub Al-Tsiqofiyah,1992, hlm 6 [5] Suharto,Drs, Tata Irianto, Kamus Besar Bahasa Ndonesia Terbaru ,Surabaya Indah, 1989, [7] Sayyid Muhammad bin Muhammad, Ithaf as-Sadah AL-muttaqin Bairut Dar L fikr , [8] Hadi,MA, Metodologi research I,Yogyakarta Andi Ofset,1997, cet 25, [9] A. Nevins,Master’s Essay in History, Colombia Unis. Press, New York,1993 [10] Saifuddin Azwar, Metodologi Penelitian Yogyakarta Pustaka Pelajar Ofifset, 2004, hlm. 91 [12] Drs. Margono, Metodelogi Penelitian Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta 2004 [13] Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Tehnik Bandung Transito, 1998, hlm. 139 [14] Anton Bekker, Achmad Charis Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 1990. Hlm. 111
Abstrak Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka library research, penelitian yang obyek utamanya adalah buku-buku atau sumber kepustakaan tentang kitab Ayyuhal Walad, karya Imam al Ghazali. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, yaitu penelitian yang menggambarkan sifat-sifat atau karakteristik individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu. Hasil penelitian, pertama, konsep pendidikan karakter merupakan gambaran tentang hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaa pendidikan karakter, baik terkait dengan definisi pendidikan karakter, tujuan pendidikan karakter dan nilai-nilai pendidikan karakter. Kedua,karakter atau akhlak menurut al-Ghazali adalah suatu kemantapan jiwa yang menghasilkan perbuatan dan pengalaman dengan mudah, tanpa harus direnungkan dan redaksi lain, al-Ghazali juga berpendapat Pendidikan karakter adalah sebuah proses pembersihan jiwa. Dari jiwa yang bersih lahir perilaku yang baik, seperti jujur, dermawan, dan sabar. Ketiga, pendidikan karakter dalam kitab Ayyuhal Walad berisi nasihat al-Ghazali kepada muridnya yang meminta nasihat khusus, secara garis besar membehas tentang masalah akhlak kepada Allah, akhlak seorang pendidik, akhlak seorang pelajar, dan akhlak dalam pergaulan. Tujuan dari pembahasan pendidikan akhlak dalam kitab ini untuk mencetak pribadi yang baik, bermoral dan lebih mengutamakan kepentingan Allah Syari’at daripada yang lainnya. Dan juga untuk mendapatkan Ridha Allah SWT. di dunia maupun di akhirat.
adab murid terhadap guru dalam kitab ihya ulumuddin