B kekompakan C. keluwesan D. keindahan. 24. Ada 3 unsur yang harus dimiliki oleh seorang penari, kecuali . A. Wiraga B. Wirasa C. Wirama D. Postur tubuh. 25. Nilai persatuan harus diterapkan dalam menampilkan . A. menyanyi solo B. tarian berkelompok C. tarian solo D. karya lukisan. 26. Berikut ini yang dimaksud dengan wiraga adalah . Unsurunsur yang mempengaruhi dinamika kelompok yaitu 1) tujuan kelompok, 2) struktur kelompok, 3) fungsi tugas kelompok, 4) pembinaan dan pemeliharaan kelompok, 5) kekompakan kelompok, 6) suasana kelompok, 7) tekanan kelompok, 8) efektivitas kelompok dan 9) maksud tersembunyi (Slamet dalam Utama 2010). Kohesimerupakan salah satu unsur pembentuk teks yang penting. Menurut Mulyana (2005: 26) menyatakan bahwa kohesi dalam wacana diartikan sebagai kepaduan bentuk yang secara struktural membentuk ikatan sintaktikal. Sejalan dengan hal tersebut Anton M. Moeliono (dalam Mulyana, 2005: 26) menyatakan bahwa wacana yang baik dan utuh menayaratkan KreasiGaris pada Karya Dekoratif • Unsur garis merupakan salah satu unsur utama dalam karya dekoratif. • Terdapat berbagai kreasi garis yang digunakan dalam karya dekoratif, misalnya garis horizontal, lengkung, zig-zag, dan garis gelombang. MATERI MATEMATIKA KELAS III SEMESTER 2 KURIKULUM DARURAT COVID-19 4 Menghias Gambar Kincir Angin 1 1 MODUL 3 KB 1 : UNSUR, JENIS DAN TEKNIK TARI A. PENDAHULUAN 1. Deskripsi Singkat Selamat pagi, pada modul sebelumnya Anda telah belajar tentang Seni Musik . Nah, sekarang perhatikan baik-baik modul berikut ini, yaitu tentang seni tari. Aneka ragam tari yang tumbuh dan berkembang di suatu masyarakat, merupakan hasil kreasi manusia untuk 90Kata-kata Solidaritas yang Bisa Membangkitkan Kekompakan. Kekuatan sebuat kelompok atau pun organisasi terlihat dari solidaritas yang dimiliki oleh setiap anggotanya. Dengan sifat inilah, visi dan misi yang dirancang bisa dengan mudah terwujud. Dream - Dalam kehidupan bersosial, kita tentu saja akan banyak melakukan interaksi dengan Aspekpenilaian dalam lomba ini adalah kekompakan, kecepatan dan keselamatan personil dalam melakukan perebutan kembali anjungan yang merupakan COG KRI untuk mengambil alih komando dan kendali Kapal dari tangan musuh. Untuk menguji tim VBSS dalam kegiatan ini, ditunjuk tim agresor untuk menghambat dan menggangu gerak dari tim VBSS tersebut. 1 Bahwa partisipasi atau keikutsertaan sesungguhnya merupakan suatu keterlibatan mental dan perasaan, tidak hanya semata-mata keterlibatan secara jasmaniah. 2. Kesediaan memberi sesuatu sumbangan kepada usaha mencapai tujuan kelompok. Ini berarti, bahwa terdapat rasa senang, kesukarelaan untuk membantu kelompok. 3. Unsurunsur yang diperlukan dalam senam irama adalah kelentukan, keseimbangan, keluwesan, fleksibilitas, kontinuitas, ketepatan, dan gerak koordinasi. Berikut ini adalah penjelasan unsur-unsur dalam senam ritmik, seperti dikutip dalam modul Penjaskes Kelas VIII (2015). 1. Ketepatan Musik/Irama. Pada dasarnya irama telah dikenal oleh siswa mengatakanada 4 unsur pokok yang meliputi : sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam yang ada disekelilingnya organisasi ekonomi alat-alat, dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama) organisasi kekuatan (politik) Dalaminteraksi antar anggota kelompok terdapat kekuatan atau pengaruh yang dapat membentuk kekompakan dalam kelompok. 3) Kohesi kelompok . Merupakan sejumlah faktor yang mempengaruhi anggota kelompok untuk tetap menjadi anggota kelompok tersebut. 10. 9 Sitti Hartinah, Konsep Dasar Bimbingan Kelompok, (Bandung: PT Refika Aditama, 2009), Adanyakelompok menjadikan individu-individu tersebut menjadi kuat. Berkenaan dengan hal ini, sistem berkelompok menjadi salah satu metode kepramukaan dari delapan unsur. Setiap unsur dalam metode kepramukaan memiliki fungsi pendidikan spesifik yang secara bersama-sama dan keseluruhan saling memperkuat dan menunjang tercapainya tujuan dalamkelompok dalam hal perencanaan hingga pemecahan masalah menjadi daya dorong munculnya rasa saling percaya dalam kerjasama. Adanya trust atau rasa saling percaya yang kuat dapat memperkuat jaringan kerjasama dalam aktivitas ekonomi dan aktivitas adopsi inovasi (Bulu, 2010). Unsur tepenting dalam modal sosial adalah rasa kepercayaan yang Salahsatu unsur utama dalam tari adalah gerakan tubuh. Gerak tubuh dalam tari berfungsi untuk mengekspresikan suasana atau tema dalam tari tersebut. 2. Busana Tata busana tari meliputi semua pakaian yang dikenakan penari saat mempertunjukkan suatu karya tari di atas pentas sesuai peran yang ditampilkan. Dinamikakelompok. Dinamika kelompok adalah suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami. [1] Dinamika kelompok berasal dari kata dinamika dan kelompok. Dinamika berati interaksi atau interdependensi antara S5v9. Daftar isi1 Apa kriteria penilaian dalam lomba tari tradisional?2 Apakah unsur pokok dari tari?3 Kriteria apa yang membuat sebuah tarian disebut dengan tari tradisional?4 Apa saja unsur pokok sebuah tari brainly?5 Apa saja kriteria yang perlu dinilai untuk mengapresiasi karya seni dalam bentuk lukisan?6 Kriteria apa saja yang digunakan untuk mengidentifikasi karya seni tari? Sridamayanti menyampaikan kriteria penilaian lomba tari meliputi 3 aspek yaitu Wiraga, Wirama, dan Wirasa. Wiraga itu mengenai ketubuhan dan teknik tari tersebut. Wirama yaitu kesesuain gerak dengan iringannya, dan Wirasa itu penghayatan peserta pada tarian yang dibawakannya. Apakah unsur pokok dari tari? Unsur Utama dalam Tari Wiraga adalah gerakan tubuh yang dinamis, ritmis, dan memiliki unsur keindahan atau estetis. Unsur estetis dalam tarian harus ditonjolkan dalam sebuah tarian. Gerakan dalam tarian dibagi menjadi dua yaitu gerak murni dan gerak maknawi. Gerak murni adalah gerak tanpa tujuan. Apa saja hal hal yang perlu dinilai dalam apresiasi seni gerak tari? Jawaban kekompakan. keselarasan. kreativitas. perpaduan. Kriteria apa saja yang harus diperhatikan untuk menilai keindahan pada tari? Jawaban Penghafalannya hafal semua gerakan tari Kelincahan. Kejiwaannya dalam menari Mendalami arti tari tersebut Kriteria apa yang membuat sebuah tarian disebut dengan tari tradisional? Ciri-ciri tari tradisional Menggunakan perlengkapan tari. Diajarkan secara turun-temurun. Berhubungan erat dengan budaya daerah. Pola gerakan yang khas dan pakem. Apa saja unsur pokok sebuah tari brainly? Jawaban gerakan, tema, iringan musik, tata busana, tata rias, properti tari, dan lighting. Gerak merupakan unsur utama dalam sebuah tarian. Apa yang dimaksud unsur utama? Unsur utama adalah unsur-unsur yang harus ada dalam sebuah tarian. Wiraga atau juga dikenal dengan raga. Wiraga itu berhubungan dengan gerakan-gerakan yang terdapat dalam tari. Wirama berkaitan dengan irama dalam seni tari. Apa saja yang dinilai dari seni tari? Penilaian terdiri dari Power. Keindahan Gerakan. Kreativitas Gerak. Detail gerakan. Kostum. Kesesuaian Gerak dengan musik. Musik. Ekspresi. Apa saja kriteria yang perlu dinilai untuk mengapresiasi karya seni dalam bentuk lukisan? Kriteria yang dinilai dalam apresiasi seni rupa adalah sebagai berikut Ide. Kreativitas. Komposisi. Gaya perseorangan. Persoalan teknik dan wujud. Kriteria apa saja yang digunakan untuk mengidentifikasi karya seni tari? Sebutkan kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi karya seni tari? ketepatan tempo / lagu. kekompakan penari. kreasi tari mengunakan tari yang beraneka ragam / tidak? kostum yang dipakai. mimik wajah. katepatan gerakan. Apa saja yang harus diperhatikan dalam menari? Hal penting yang diperlukan saat menari secara berkelompok adalah Gerakan tari yang kreaatif dan sesuai tema, kekompakan Gerakan tari, keserasian Gerakan dengan pengiring music, serta keserasian formasi penari. Iringan dalam tarian merupakan sesuatu yang penting. Apakah yang disebut dengan tari tradisional? Tari tradisional adalah suatu tarian yang berasal dari masyarakat suatu daerah yang sudah turun-temurun dan telah menjadi budaya masyarakat setempat. Tari tradisional dikelompokkan menjadi tiga yaitu tari klasik, tari rakyat atau folklasik, dan tari kreasi baru. Memiliki tim yang menjunjung tinggi makna semangat dan kekompakan pastinya berdampak positif bagi perusahaan. Menurut Ohio University, kerja sama tim team spirit dan kekompakan togetherness menjadi cara yang efisien untuk mengatasi tantangan dalam perusahaan, contohnya saat mengelola proyek besar. Tak hanya itu, manfaat lain memiliki semangat dan kekompakan dalam sebuah tim adalah meningkatnya produktivitas para karyawan. Jadi, bisa dibilang makna semangat dan kekompakan sangatlah penting untuk menunjang kinerja karyawan di sebuah perusahaan. Glints sebagai perusahaan yang kini telah memiliki lebih dari 900 karyawan juga menjunjung tinggi nilai semangat dan kekompakan. Berikut pendapat Glintstars sebutan karyawan Glints mengenai nilai hingga makna semangat dan kekompakan. Apa Makna Semangat dan Kekompakan? © Glints Team spirit atau semangat tim adalah ketika sekelompok orang bekerja keras dan saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama, menurut Mentimeter. Shania Lemmuela, Creative Designer Glints Indonesia Menurut Shania, team spirit adalah saat semua anggota tim bisa memaksimalkan potensinya masing-masing untuk meraih tujuan bersama. “Makna team spirit dalam dunia kerja adalah ketika kita yang jadi bagian dalam team dapat memaksimalkan potensi diri dan saling mendukung untuk achieve goals yang sama.” – Shania Jadi, makna team spirit tidak sebatas berinteraksi dengan karyawan lain. Namun, tiap anggota tim harus bisa saling mendukung dan punya rasa memiliki yang tinggi. Avi, Assistant Talent Acquisition Manager Glints Adanya hubungan dari “rasa memiliki” dan team spirit juga disepakati oleh Noor Laily Alviani atau akrab disapa Avi. Menurut Avi hal terpenting dari team spirit adalah sense-of-belonging yang kuat dari para anggota tim. “Menurutku makna team spirit dan togetherness itu ketika sebuah tim memiliki sense-of-belonging yang kuat agar bisa berkolaborasi dengan anggota tim lainnya.” – Avi Dengan begitu, setiap anggota tim bisa bekerja sama dengan baik tanpa merasa terbebani saat harus membantu satu sama lain. Trung Le, Creative Designer Glints Vietnam Nilai semangat dan kekompakan juga disebut sangat penting untuk diterapkan di perusahaan oleh Trung Le. Sebab, ada banyak manfaat dari menerapkan nilai semangat dan kekompakan. “Ketika semua anggota tim memiliki suara dan sudut pandang yang sama, akan lebih mudah untuk bersimpati, menghindari miskomunikasi dan konflik, serta mempercepat pengambilan keputusan.” – Trung Le Ketiga pendapat Glintstars tersebut sesuai dengan pernyataan yang ditulis oleh Vantage Circle mengenai makna semangat dan kekompakan. Saat setiap anggota tim memiliki perasaan bangga dan setia, hal itu akan berpengaruh pada kinerja timnya. “Di sisi lain, makna kekompakan adalah ketika setiap anggota tim mampu saling menutupi kekurangan anggota lainnya.” Dengan begitu, tiap anggota tim bisa saling mengandalkan satu sama lain. Jadi, komunikasi yang baik serta rasa saling percaya adalah kunci agar anggota tim bisa lebih kompak dan meraih tujuan bersama. Nilai Semangat dan Kekompakan dalam Budaya Kerja Glints © Glints Chron menjelaskan bahwa semangat tim didasarkan pada budaya perusahaan. Perusahaan yang mendukung kolaborasi dan kerja tim akan memiliki makna semangat dan kekompakan yang tinggi sehingga karyawan akan terbiasa bekerja sama. Glints juga punya budaya kerja yang disebut dengan RIIBCOH yang memengaruhi nilai semangat dan kekompakan Glintstars. Terdapat 7 nilai utama dalam budaya kerja Glints, yaitu relentlessly resourceful integrity impact beginner’s mindset customer obsessed ownership high standards Supaya bisa lebih memahami mengenai budaya Glints, kamu bisa baca penjelasan RIIBCOH di bawah ini BACA ARTIKELNYA Lalu, seperti apa kata Glintstars soal pengaruh budaya Glints terhadap nilai semangat dan kekompakan? 1. Ownership yang tinggi Avi yang bekerja hampir 3 tahun di Glints menyebutkan bahwa nilai Glints yang erat kaitannya dengan makna semangat dan kekompakan adalah ownership. “Ketika aku dan tim memiliki ownership yang tinggi, kita akan bertanggung jawab dengan satu pekerjaan dan melakukan apapun agar bisa mencapai tujuan bersama.” – Avi Avi pun menambahkan, timnya yang suportif dan kolaboratif berhasil memengaruhi nilai team spirit yang dimilikinya. 2. Tak mudah menyerah dan aktif cari solusi Shania dan Trung Le sepakat bahwa nilai relentlessly resourceful serta beginner’s mindset juga menjadi value yang berdampak pada semangat dan kekompakan yang dimiliki Glintstars. Nilai relentlessly resourceful berarti Glintstars tidak akan mudah menyerah dan aktif mencari penyelesaian masalah. Sementara itu, beginner’s mindset merupakan keinginan untuk terus belajar dan berani menerima kritik dari anggota tim. Jadi, dengan kedua nilai tersebut Glintstars bisa lebih kompak dan punya hubungan baik karena bekerja sama menyelesaikan masalah dan berani berbagi ide baru. Tindakan yang Mencerminkan Makna Semangat dan Kekompakan © Glints Bagi Glintstars, ada beragam hal yang membantu mereka meningkatkan nilai team spirit dan togetherness. 1. Buat aktivitas di luar pekerjaan Shania dan Trung Le yang menjadi bagian dari tim Creative di Glints menyebutkan jika kegiatan team building di luar jam kerja sangat bermanfaat untuk meningkatkan kekompakan. “Creative Team biasanya mengadakan Creative Club di mana kita bisa sharing topik-topik di luar pekerjaan seperti membahas film-film favorit. Kegiatan seperti itu dapat membantu kita mengenal anggota tim lebih baik dan mengurangi rasa canggung.” – Shania 2. Pemimpin yang aktif dan mengenal timnya Trung Le juga berpendapat bahwa leader adalah faktor penting yang bisa menumbuhkan semangat kekompakan tim. Dengan leader yang aktif dan bisa memahami setiap anggota timnya, pastinya semangat tim akan lebih tinggi dan jadi lebih kompak. 3. Membangun komunikasi yang baik Tanpa adanya komunikasi yang baik, menurut Avi, pasti akan lebih mudah terjadi kesalahpahaman antar anggota. Dinamika di dalam tim juga akan berjalan kurang lancar. 4. Mendekatkan diri secara personal Tak kenal maka tak sayang. Saat bekerja dengan orang yang tidak terlalu kita kenal, tentu akan memengaruhi produktivitas. Itulah mengapa, penting untuk mengenal tim secara personal. Jadi, kita bisa tahu seperti apa cara kerja tiap orang dalam tim sehingga bisa lebih nyaman saat bekerja sama dengan mereka. 5. Saling terbuka satu sama lain Tindakan terakhir yang mencerminkan makna semangat dan kekompakan ialah dengan berani saling terbuka atau jujur, menurut Avi. Saat setiap anggota tim bisa selalu jujur, hal tersebut dapat membangun lingkungan yang psychologically safe. Selain itu, akan lebih mudah untuk memberikan feedback kepada sesama anggota tanpa harus merasa tidak enak. Itulah pandangan dan praktik soal semangat serta kekompakan dari Glintstars. Kedua nilai tersebut telah menjadi bagian penting dalam budaya kerja Glints karena terbukti dapat meningkatkan produktivitas tim. Nah, jika kamu ingin merasakan manfaat serta menumbuhkan nilai-nilai semangat dan kekompakan dalam diri, yuk bergabung dalam tim Glints. Di Glints, kedua hal tersebut menjadi kunci bagi Glintstars untuk bisa bekerja sama dengan baik dalam menghadapi tantangan, meningkatkan produktivitas, hingga punya karier yang lebih cemerlang. Saat ini Glints masih membuka banyak peluang untukmu, lho! Klik tombol di bawah untuk temukan lowongan-lowongannya APPLY DI GLINTS 6 Tips to Build Team Spirit at Work in 2022 What is the Value of Teamwork? 5 Ways to Encourage Team Spirit Examples of Good Team Spirit Pranala link kekompakan n perihal kompak mengompakkan v menjadikan kompak Sumber Kamus Bahasa Indonesia edisi elektronik Pusat Bahasa, 2008 ✔ Tentang KBBI daring ini Aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI ini merupakan KBBI Daring Dalam Jaringan / Online tidak resmi yang dibuat untuk memudahkan pencarian, penggunaan dan pembacaan arti kata lema/sub lema. Berbeda dengan beberapa situs web laman/website sejenis, kami berusaha memberikan berbagai fitur lebih, seperti kecepatan akses, tampilan dengan berbagai warna pembeda untuk jenis kata, tampilan yang pas untuk segala perambah web baik komputer desktop, laptop maupun telepon pintar dan sebagainya. Fitur-fitur selengkapnya bisa dibaca dibagian Fitur KBBI Daring. Database utama KBBI Daring ini masih mengacu pada KBBI Daring Edisi III, sehingga isi kata dan arti tersebut merupakan Hak Cipta Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud dahulu Pusat Bahasa. Diluar data utama, kami berusaha menambah kata-kata baru yang akan diberi keterangan tambahan dibagian akhir arti atau definisi dengan "Definisi Eksternal". Semoga semakin menambah khazanah referensi pendidikan di Indonesia dan bisa memberikan manfaat yang luas. Aplikasi ini lebih bersifat sebagai arsip saja, agar pranala/tautan link yang mengarah ke situs ini tetap tersedia. Untuk mencari kata dari KBBI edisi V terbaru, silakan merujuk ke website resmi di ✔ Fitur KBBI Daring Pencarian satu kata atau banyak kata sekaligus Tampilan yang sederhana dan ringan untuk kemudahan penggunaan Proses pengambilan data yang sangat cepat, pengguna tidak perlu memuat ulang reload/refresh jendela atau laman web website untuk mencari kata berikutnya Arti kata ditampilkan dengan warna yang memudahkan mencari lema maupun sub lema. Berikut beberapa penjelasannya Jenis kata atau keterangan istilah semisal n nomina, v verba dengan warna merah muda pink dengan garis bawah titik-titik. Arahkan mouse untuk melihat keterangannya belum semua ada keterangannya Arti ke-1, 2, 3 dan seterusnya ditandai dengan huruf tebal dengan latar lingkaran Contoh penggunaan lema/sub-lema ditandai dengan warna biru Contoh dalam peribahasa ditandai dengan warna oranye Ketika diklik hasil dari daftar kata "Memuat", hasil yang sesuai dengan kata pencarian akan ditandai dengan latar warna kuning Menampilkan hasil baik yang ada di dalam kata dasar maupun turunan, dan arti atau definisi akan ditampilkan tanpa harus mengunduh ulang data dari server Pranala Pretty Permalink/Link yang indah dan mudah diingat untuk definisi kata, misalnya Kata 'rumah' akan mempunyai pranala link di Kata 'pintar' akan mempunyai pranala link di Kata 'komputer' akan mempunyai pranala link di dan seterusnya Sehingga diharapkan pranala link tersebut dapat digunakan sebagai referensi dalam penulisan, baik di dalam jaringan maupun di luar jaringan. Aplikasi dikembangkan dengan konsep Responsive Design, artinya tampilan situs web website KBBI ini akan cocok di berbagai media, misalnya smartphone Tablet pc, iPad, iPhone, Tab, termasuk komputer dan netbook/laptop. Tampilan web akan menyesuaikan dengan ukuran layar yang digunakan. Tambahan kata-kata baru diluar KBBI edisi III Penulisan singkatan di bagian definisi seperti misalnya yg, dng, dl, tt, dp, dr dan lainnya ditulis lengkap, tidak seperti yang terdapat di KBBI PusatBahasa. ✔ Informasi Tambahan Tidak semua hasil pencarian, terutama jika kata yang dicari terdiri dari 2 atau 3 huruf, akan ditampilkan semua. Jika hasil pencarian dari daftar kata "Memuat" sangat banyak, maka hasil yang dapat langsung di klik akan dibatasi jumlahnya. Selain itu, untuk pencarian banyak kata sekaligus, sistem hanya akan mencari kata yang terdiri dari 4 huruf atau lebih. Misalnya yang dicari adalah "air, minyak, larut", maka hasil pencarian yang akan ditampilkan adalah minyak dan larut saja. Untuk pencarian banyak kata sekaligus, bisa dilakukan dengan memisahkan masing-masing kata dengan tanda koma, misalnya ajar,program,komputer untuk mencari kata ajar, program dan komputer. Jika ditemukan, hasil utama akan ditampilkan dalam kolom "kata dasar" dan hasil yang berupa kata turunan akan ditampilkan dalam kolom "Memuat". Pencarian banyak kata ini hanya akan mencari kata dengan minimal panjang 4 huruf, jika kata yang panjangnya 2 atau 3 huruf maka kata tersebut akan diabaikan. Edisi online/daring ini merupakan alternatif versi KBBI Offline yang sudah dibuat sebelumnya dengan kosakata yang lebih banyak. Bagi yang ingin mendapatkan KBBI Offline tidak memerlukan koneksi internet, silakan mengunjungi halaman web ini KBBI Offline. Jika ada masukan, saran dan perbaikan terhadap kbbi daring ini, silakan mengirimkan ke alamat email gmail com Kami sebagai pengelola website berusaha untuk terus menyaring iklan yang tampil agar tetap menampilkan iklan yang pantas. Tetapi jika anda melihat iklan yang tidak sesuai atau tidak pantas di website ini silakan klik Laporkan Iklan ArticlePDF AvailableAbstractMasalah yang terlihat pada saat observasi yaitu proses pembelajaran terlihat pembelajaran berorientasi pada hasil, hal ini membuat siswa menjadi saling berkompetisi padahal dalam pembelajaran fisika sangat dibutuhkan keterampilan kerjasama dan kekompakan dalam kelompok, menimbang mata pelajaran fisika dianggap sulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerjasama dan kekompakan siswa dalam pembelajaran fisika di kelas. Penelitian dilakukan terhadap 268 responden yang terdiri dari tujuh kelas dari XI MIPA di SMA Negeri 3 Kota Jambi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan dua faktor yaitu kerjasama cooperation dan kekompakan siswa student cohesiveness. Analisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil yang didapatkan bahwa tingkat kerjasama siswa dalam pembelajaran fisika di kelas termasuk dalam kategori “Sangat Baik” dengan nilai rata-rata 4,20 dalam skala 5,00 dengan nilai standar deviasi sebesar 0,84. Tingkat kekompakan siswa dalam pembelajaran fisika di kelas termasuk dalam kategori “Baik” dengan nilai rata-rata 3,86 dalam skala 5,00 dengan nilai standar deviasi sebesar 0,88. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. KERJASAMA DAN KEKOMPAKAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI KELAS XII MIPA SMAN 3 KOTA JAMBI Amalla Rizki Putri1, Maison2, dan Darmaji3 1,2,3Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Jambi, Jambi, Indonesia Email amallarizkiputri29 © 2018 Pendidikan Fisika Universitas Jambi Abstrak Masalah yang terlihat pada saat observasi yaitu proses pembelajaran terlihat pembelajaran berorientasi pada hasil, hal ini membuat siswa menjadi saling berkompetisi padahal dalam pembelajaran fisika sangat dibutuhkan keterampilan kerjasama dan kekompakan dalam kelompok, menimbang mata pelajaran fisika dianggap sulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerjasama dan kekompakan siswa dalam pembelajaran fisika di kelas. Penelitian dilakukan terhadap 268 responden yang terdiri dari tujuh kelas dari XI MIPA di SMA Negeri 3 Kota Jambi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan dua faktor yaitu kerjasama cooperation dan kekompakan siswa student cohesiveness. Analisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil yang didapatkan bahwa tingkat kerjasama siswa dalam pembelajaran fisika di kelas termasuk dalam kategori “Sangat Baik” dengan nilai rata-rata 4,20 dalam skala 5,00 dengan nilai standar deviasi sebesar 0,84. Tingkat kekompakan siswa dalam pembelajaran fisika di kelas termasuk dalam kategori “Baik” dengan nilai rata-rata 3,86 dalam skala 5,00 dengan nilai standar deviasi sebesar 0,88. Kata kunci kerjasama, kekompakan siswa Info Artikel Diterima 13 September 2018 Disetujui 05 November 2018 Dipublikasikan 15 Desember 2018 Alamat Korespondensi amallarizkiputri29 Volume 3 Nomor 2, Desember 2018 P-ISSN2477-7935 E-ISSN 2548-6225 Jurnal Edufisika Volume 3 Nomor 2, Desember 2018 Kerjasama dan Kekompakan .... Amalla Rizki Putri, dkk hal32-40 33 Pendahuluan Lingkungan belajar merupakan bagian dari proses belajar yang menciptakan tujuan belajar dalam Winarno. Lingkungan belajar tidaklah lepas dari keberadaan siswa dalam belajar. Kebiasaan belajar siswa dipengaruhi oleh kebiasaan siswa dalam belajar di sekolah, di rumah maupun di masyarakat. Kerjasama sangat dibutuhkan dalam bermasyarakat, mengingat manusia adalah makhluk sosial. Kerjasama dalam pembelajaran adalah suatu proses interaksi positif antarsiswa untuk mencapai tujuan yang sama. Kerjasama merupakan sikap positif yang terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Menurut Pamudji kerjasama pada hakikatnya mengindikasikan adanya dua pihak atau lebih yang berinteraksi secara dinamis untuk mencapai suatu tujuan bersama dalam Nasia. Kerjasama dalam kelompok menurut Krisnadi diartikan sebagai kolaborasi yang berarti kegiatan belajar yang lebih menekankan kepada seberapa besar sumbangan masing-masing anggota kelompok terhadap pencapaian tujuan kelompoknya dalam Suhardi, 2013. Kerjasama merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup Hapsari, 2014. Kerjasama dalam pembelajaran dapat dilakukan oleh dua siswa atau lebih yang saling berinteraksi, menggabungkan tenaga, ide atau pendapat dalam waktu tertentu dalam mencapai tujuan pembelajaran sebagai kepentingan bersama Yulianti, 2016. Hapsari menjelaskan hasil penelitiannya bahwa keterampilan kerjasama dalam pembelajaran sangat penting, siswa dapat bertukar gagasan dan informasi untuk mencari solusi kreatif serta keberhasilan dalam menyelesaikan tugas-tugas sangat bergantung pada sejauh mana mereka berinteraksi satu sama lain dalam Anjani, 2017. Dijelaskan juga lebih lanjut oleh Nasia keterampilan kerjasama dalam kelompok adalah kepedulian satu orang atau satu pihak dengan orang atau pihak lain yang tercermin dalam satu kegiatan yang menguntungkan semua pihak dengan prinsip saling percaya, menghargai dan adanya norma yang mengatur dalam Anjani 2017. Berdasarkan pendapat para peneliti terdahulu, penulis menarik sebuah kesimpulan tentang definisi kerjasama yaitu merupakan kerja yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk mewujudkan tujuan yang sama. Kekompakan berkaitan dengan kerjasa- ma. Jika siswa kompak berarti kerjasama yang mereka lakukan baik sehingga terbentuk kekompakan. Menurut Maksmum 2011 kohesivitas yang secara sederhana diartikan sebagai kekompakan, dapat didefinisikan sebagai proses dinamis yang tercermin dalam kecenderungan untuk menjalin dan mengembangkan kebersamaan yang padu guna mencapai suatu tujuan dalam Syahrial. Munandar 2001 menyatakan semakin para anggota saling tertarik dan makin sepakat anggota terhadap sasaran dan tujuan kelompok maka makin kohesif kelompoknya dalam Purwaningtyastuti. Kelompok-kelompok yang sangat kohesif lazimnya terdiri dari individu-individu yang termotivasi untuk bersatu, sehingga akibatnya manajemen atau sebagian manajemen cenderung mengharapkan kelompok yang kohesif tersebut menunjukkan kinerja yang efektif dalam Purwaningtyastuti, 2012. Menurut Maksmum kohesivitas yang secara sederhana diartikan sebagai kekompakan, dapat didefinisikan sebagai proses dinamis yang tercermin dalam kecenderungan untuk menjalin dan mengembangkan kebersamaan yang padu guna mencapai suatu tujuan dalam Syahrial, 2013. Kohesivitas kelompok menurut Robbins adalah tingkat dimana anggota-anggota kelompok saling tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tinggal di dalam kelompok tersebut dalam Permana, 2017. Kohesivitas adalah semua kekuatan yang menyebabkan anggota bertahan dalam kelompok, seperti kesukaan pada anggota lain dalam kelompok dan keinginan untuk menjaga atau meningkatkan status dengan menjadi anggota dari kelompok yang tepat Permana, 2017. Berdasarkan pendapat para peneliti terdahulu, penulis menarik sebuah kesimpulan tentang definis kekompakan yaitu merupakan sikap yang ditunjukkan setiap anggota kelompok dengan saling tertarik dan menyatu dalam kerjasama untuk mencapai tujuan kelompok. Berdasarkan observasi di SMA Negeri 3 Kota Jambi, pada proses pembelajaran terlihat pembelajaran berorientasi pada hasil, hal ini membuat siswa menjadi saling berkompetisi. Seperti yang disampaikan oleh Rosita bahwa Jurnal Edufisika Volume 3 Nomor 2, Desember 2018 Kerjasama dan Kekompakan .... Amalla Rizki Putri, dkk hal32-40 34 pembelajaran yang hanya berorientasi pada hasil belajar semata, tentu akan memberikan dampak kurang positif pada siswa karena siswa akan cenderung individualistis, kurang bertoleransi, dan jauh dari nilai-nilai kebersamaan. Selain itu, sekolah ini memiliki siswa yang berasal dari berbagai macam agama, suku, dan ras. Hal ini membuat sebagian siswa menjadi lebih bersifat individualis. Sifat individualis karena merasa tidak membutuhkan orang lain dan tidak suka bekerja dalam kelompok, siswa cenderung berkompetensi secara individual di kelas, bersikap tertutup terhadap teman, kurang memberikan perhatian terhadap teman sekelas, ingin menang sendiri dan sebagainya. Sementara pada era ini, guru lebih mengedepankan metode pembelajaran yang membutuhkan kerjasama antar siswa daripada metode ceramah yang hanya berpusat pada guru. Sehingga, pada proses pembelajaran fisika sangat dibutuhkan kerja-sama dan kekompakan yang baik. Pembelajaran fisika yang berpacu pada konsep-konsep memerluan pemahaman yang tinggi. Terkadang, satu guru tidak dapat mengimbangi banyaknya siswa di kelas. Sementara, jika dalam satu pembelajaran terdapat dua guru, maka pembelajaraan akan kacau dan tidak terarah. Di beberapa tempat ditemukan siswa saling belajar bersama, berdiskusi, saling berbagi pengetahuan untuk mengimbangi hal tersebut. Kondisi inilah yang dianggap paling efisien dibandingkan harus menambah waktu belajar di bimbel. Sehingga siswa dituntut saling kerjasama agar pem-belajaran lebih efektif dan efisien. Pembelajaran fisika lainnya adalah dalam bentuk praktikum. Oleh karena alat, bahan dan waktu yang terbatas pembelajaran yang terdapat praktikum dibagi dalam beberapa kelompok. Agar praktikum berjalan lancar dan tujuan tercapai, maka siswa dituntut agar melakukan kerjasama yang baik antar kelompok, dan kompak dalam kelompok agar tercapainya pembelajaran dengan baik. Berdasarkan hal yang telah dijelaskan, maka peneliti mengadakan penelitian mengenai “kerjasama dan kekompakan siswa dalam pembelajaran fisika di kelas XI MIPA SMA Negeri 3 Kota Jambi”. Metode Penelitian Desain Penelitian Pada penelitian ini terdapat dua variabel independen tanpa variabel dependen. Variabel independen pertama X1 yaitu kerjasama siswa cooperation, dan variabel independen kedua X2 yaitu kekompakan siswa student cehesiveness. Karena tidak menggunakan variabel dependen, maka metode yang paling tepat adalah metode deskriptif. Dimana peneliti akan mendeskripsikan hasil penelitian secara rinci. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian bertempat di SMAN 3 Kota Jambi. Waktu penelitian dilakukan mulai dari Kamis tanggal 8 Maret sampai dengan Senin 12 Maret 2018 dengan perhitungan hari efektif selama 3 hari. Selama tiga hari, peneliti mengumpulkan data dari 7 kelas yaitu XI MIPA 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Target/Subjek Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah berjumlah 268 responden. Sampel yang digunakan adalah sebanyak populasi yaitu 268 responden. Teknik sampling yang digunakan adalah Total Sampling. Total sampling dalam Sugiyono adalah teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi. Makin banyak sampel yang digunakan, makin kecil tingkat kesalahan. Mengingat teknik ini dianggap paling akurat dan terbebas dari pengaruh kesalahan sampel sample errors, sehingga teknik sampling yang cocok digunakan dalam penelitian ini adalah Total Sampling. Prosedur Berdasarkan desain penelitian yang dipilih, prosedur penelitian yang digunakan diadaptasi dari Sugiyono 2016 adalah sebagai berikut. Jurnal Edufisika Volume 3 Nomor 2, Desember 2018 Kerjasama dan Kekompakan .... Amalla Rizki Putri, dkk hal32-40 35 Gambar 1. Skema Makro Langkah-Langkah Penelitian Teknik pengumpulan data mengguna-kan kuesioner. Untuk memudahkan dalam pe-nelitian, penulis menggunakan kuesioner yang telah baku. Kuesioner yang digunakan adalah Kuesioner WIHIC What Is Happening In This Class? dikenal juga dengan persepsi siswa terhadap lingkungan belajar di kelas. Selan-jutnya data akan dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan statistik deskriptif melalui program MS. Exel. Hasil Penelitian dan Pembahasan Berikut ini hasil statistik deskriptif kerjasama siswa dalam pembelajaran fisika di kelas untuk tiap kelas disajikan pada tabel 1 dan penjabaran tiap item disajikan pada tabel 2. Tabel 1. Kerjasama Siswa dalam Pembelajaran Fisika di Kelas untuk Tiap Kelas Berdasarkan tabel 1, dapat dilihat nilai rata-rata untuk seluruh kelas adalah sebesar 4,20 dengan nilai standar deviasi 0,84 ini menunjukkan data yang diperoleh representatif. Jika nilai rata-rata dibandingkan dengan tabel tentang klasifikasi kategori seberapa baik kerjasama siswa dalam pembelajaran fisika di kelas, maka nilai 4,20 termasuk dalam rentang 4,01-5,00 yaitu “Sangat Baik”. Kelas yang memiliki rata-rata tertinggi yaitu kelas G dilanjutkan dengan kelas A, F, C, B, D, dan E. Berikut ini penyajian dalam bentuk diagram batang. Gambar 2. Diagram Batang Kerjasama siswa dalam Pembelajaran Fisika di Kelas untuk Tiap Kelas [VALUE]0 4,17 4,19 [VALUE]0 3,95 4,22 4,49 3,6 3,8 4 4,2 4,4 4,6 A B C D E F G RATA-RATA KELAS Jurnal Edufisika Volume 3 Nomor 2, Desember 2018 Kerjasama dan Kekompakan .... Amalla Rizki Putri, dkk hal32-40 36 Tabel 2. Kerjasama Siswa dalam Pembelajaran Fisika di Kelas Berdasarkan tabel 2, item yang menyumbang nilai tertinggi adalah item 2 dilanjutkan dengan item 4, item 1, item 3, item 5, item 8, item 6 dan item 7. Item yang menyumbang nilai tertinggi adalah item 2 sebesar 13,98% yaitu pernyataan bahwa siswa berbagi buku-buku dan sumber belajar yang mereka miliki kepada siswa lainnya ketika menyelesaikan tugas. Sebagaimana dikatakan oleh Krisnadi 2007 bahwa kerjasama merupakan kolaborasi antar kelompok, dimana kegiatan belajar yang lebih menekankan kepada seberapa besar sumbangan masing-masing anggota kelompok terhadap pencapaian tujuan kelompok dalam Suhardi. Item ini mem-buktikan bahwa untuk mencapai tujuan pembe-lajaran siswa bekerjasama saling meminjamkan sumber belajara buku pelajaran kepada anggota kelompok lainnya. Item selanjutnya yang menyumbang nilai tertinggi kedua adalah item 4 sebesar 13,38% yaitu pernyataan bahwa siswa mengerjakan proyek bersama teman lainnya di kelas, dan item 1 sebesar 13,35% yaitu pernyataan bahwa siswa saling bekerjasama dengan siswa lainnya ketika menyelesaikan tugas. Hapsari 2014 menyatakan bahwa keberhasilan dalam menyelesaikan tugas-tugas sangat bergantung pada sejauh mana mereka berinteraksi satu sama lain. Idealnya, baik interaksi antarsiswa maka baik pula hasilnya. Untuk beberapa metode pembelajaran seperti diskusi dan praktikum membutuhkan kerjasama yang baik, dimana siswanya saling berinteraksi dengan baik dalam Anjani. Hasil penelitian menggambarkan bahwa interaksi antar siswa termasuk dalam kategori baik, sehingga ini membuktikan kerjasama antarsiswa termasuk kategori baik karena interaksi yang baik. Item 3 menyumbang nilai sebesar 12,94% dengan pernyataan bahwa terdapat kerjasama tim ketika belajar kelompok di kelas. Hal ini menggambarkan bahwa siswa melakukan kegiatan positif saat pembelajaran, mereka melakukan pekerjaan menguntungkan siswa lainnya sehingga timbul kerjasama yang baik dalam kelompok. Dikatakan oleh Yulianti 2016 kerjasama dalam pembelajaran dilakukan oleh dua orang siswa atau lebih yang saling berinteraksi, menggabungkan tenaga, ide atau pendapat dalam waktu tertentu dalam mencapai tujuan pembelajaran sebagai kepentingan bersama. Item 5 menyumbang nilai sebesar 11,95% dengan pernyataan bahwa siswa belajar dari siswa lainnya di kelas. Karena terbatasnya waktu pembelajaran di kelas membuat siswa memiliki keterbatasan dalam belajar, terlebih lagi dalam satu kelas perbandingan guru dan siswa rata-rata adalah 140 sehingga memungkinkan siswa untuk belajar dari siswa lainnya yang lebih paham akan pelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran, inilah bentuk kerjasama siswa. Dijelaskan juga lebih lanjut oleh Nasia 2014 keterampilan kerjasama dalam kelompok adalah kepedulian satu orang atau satu pihak dengan orang atau pihak lain yang tercermin dalam satu kegiatan yang menguntungkan semua pihak dengan prinsip saling percaya, menghargai dan adanya norma yang mengatur dalam Anjani. Item 8 menyumbang nilai sebesar 11,74% dengan pernyataan bahwa para siswa bekerjasama bersama dalam mencapai tujuan-tujuan. Dalam pembelajaran, terdapat satu tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa. Oleh karena tujuan ini hanya satu untuk semua siswa, hendaknya siswa saling bekerjasama dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pamudji 1985 mengatakan bahwa kerjasama pada hakikatnya mengindikasi adanya dua pihak atau lebih yang berinteraksi secara dinamis untuk Jurnal Edufisika Volume 3 Nomor 2, Desember 2018 Kerjasama dan Kekompakan .... Amalla Rizki Putri, dkk hal32-40 37 mencapai suatu tujuan bersama. Ditambahkan pula oleh Hapsari 2014 yang mengatakan kerjasama adalah suatu bentuk interaksi sosial ketika tujuan anggota kelompok yang satu berkaitan erat dengan tujuan anggota yang lain atau tujuan kelompok secara keseluruhan sehingga setiap individu hanya dapat mencapai tujuan apabila individu lain juga mencapai tujuan. Item 6 menyumbang nilai sebesar 11,49% dengan pernyataan siswa mengerjakan kegiatan kelas bersama siswa lainnya. Hal ini disampaikan oleh Zainudin 2013 kerjasama merupakan kepedulian satu orang atau satu pihak dengan orang atau pihak lain dengan prinsip saling percaya, menghargai dan adanya norma yang mengatur. Bekerjasama akan terjadi bila memiliki tujuan yang singkron atau sama. Dengan bekerjasama maka pencapaian tujuan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Siswa memiliki tingkat kerjasama yang tinggi apabila siswa bekerjasama dengan baik kepada semua siswa dan saling menguntungkan satu sama lainnya. Kerjasama pun tidak hanya pada pembelajaran bahkan juga untuk kegiatan lain. Hal tersebut sejalan dengan item 7 yang menyumbang nilai sebesar 11,16% dengan pernyataan siswa bekerjasama dengan siswa lainnya dalam kegiatan kelas. Kerjasama siswa dikatakan sangat baik karena sebagian besar siswa merasa saling bekerjasama dengan siswa lain dalam kelompok untuk mengerjakan tugas dan proyek, menggunakan sumber belajar secara bersama-sama, untuk memperdalam pemahaman siswa belajar dari siswa lainnya, bukan hanya bekerjasama dalam mencapai tujuan, tetapi juga dalam kegiatan kelas lainnya. Berikut ini hasil statistik deskriptif kekompakan siswa dalam pembelajaran fisika di kelas untuk tiap kelas disajikan pada tabel 3 dan penjabaran tiap item disajikan pada tabel 4. Tabel 3. Kekompakan Siswa dalam Pembelajaran Fisika di Kelas untuk Tiap Kelas Berdasarkan tabel 3, dapat dilihat nilai rata-rata untuk seluruh kelas adalah sebesar 3,86 dengan nilai standar deviasi 0,88 ini menunjukkan data yang diperoleh representatif. Jika nilai rata-rata dibandingkan dengan tabel tentang klasifikasi kategori seberapa baik kekompakan siswa dalam pembelajaran fisika di kelas, maka nilai 3,86 termasuk dalam rentang 3,01-4,00 yaitu “Baik”. Kelas yang memiliki rata-rata tertinggi yaitu kelas G dilanjutkan dengan kelas C, B, A, E, F, dan D. Berikut ini penyajian dalam bentuk diagram batang. Gambar 3. Diagram Batang Kerjasama siswa dalam Pembelajaran Fisika di Kelas untuk Tiap Kelas [VALUE] 3,92 3,99 [VALUE] 3,73 3,72 4,06 3,4 3,5 3,6 3,7 3,8 3,9 4 4,1 A B C D E F G RATA-RATA KELAS Jurnal Edufisika Volume 3 Nomor 2, Desember 2018 Kerjasama dan Kekompakan .... Amalla Rizki Putri, dkk hal32-40 38 Tabel 4. Kekompakan Siswa dalam Pembelajaran Fisika di Kelas Berdasarkan tabel 4, item yang me-nyumbang nilai tertinggi adalah item 10 dilanjutkan dengan item 13, item 12, item 15, item 9, item 14, item 11 dan item 16. Item yang memberikan nilai tertinggi adalah item 10 yang menyumbang nilai sebesar 13,03% dengan penyataan bahwa siswa mengenal siswa lainnya di kelas. Kekompakan antarsiswa dapat dilihat dari apakah mereka mengetahui anggota kelas mereka, tidak akan bisa dikatakan kompak apabila siswa tidak mengetahui anggota kelasnya sehingga mereka dapat bekerja dengan baik sehingga timbul kekompakan antar siswa tersebut. Sebagaimana dikatakan Robbins 2012 kohesivitas kelompok adalah tingkat dimana anggota anggota kelompok saling tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tinggal di dalam kelompok tersebut dalam Permana. Item 13 menyumbang nilai sebesar 12,80% dengan pernyataan siswa bekerja dengan baik dengan semua orang di kelas. Dengan bekerjasama antar anggota di kelas, siswa dapat dikatakan kohesif. Kelompok-kelompok yang sangat kohesif lazimnya terdiri dari individu-individu yang termotivasi untuk bersatu, sehingga akibatnya manajemen atau sebagian manajemen cenderung mengharapkan kelompok yang kohesif tersebut menunjukkan kinerja yang efektif dalam Purwaningtyastuti. Item 12 menyumbang nilai sebesar 12,76% dengan pernyataan siswa merasa semua orang di kelas adalah temannya. Suatu kelompok dapat dikatakan kompak apabila antar anggota kelompoknya memiliki hubungan yang baik. menurut Maksmum 2011 kohesivitas yang secara sederhana diartikan sebagai kekompakan, dapat didefinisikan sebagai proses dinamis yang tercermin dalam kecenderungan untuk menjalin dan mengembangkan kebersamaan yang padu guna mencapai suatu tujuan dalam Syahrial. Hal ini sejalan dengan item 9 yang menyumbang nilai sebesar 12,57% dengan pernyataan siswa merasa bersahabat dengan mudah terhadap siswa lainnya, dan item 11 sebesar 11,89% dengan pernyataan siswa merasa bersikap ramah dengan semua orang di kelas. Item 15 menyumbang nilai sebesar 12,62% dengan pernyataan bahwa siswa merasa semua siswa di kelas menyukainya. Bila anggota kelompok saling menyukai satu sama lain dan dieratkan dengan ikatan persahabatan, kekom-pakan kelompok akan tinggi. Menurut Permana 2017 kohesivitas adalah semua kekuatan yang menyebabkan anggota bertahan dalam kelom-pok, seperti kesukaan pada anggota lain dalam kelompok dan keinginan untuk menjaga atau meningkatkan status dengan menjadi anggota dari kelompok yang tepat. Item 14 menyumbang nilai sebesar 12,52% dengan pernyataan bahwa siswa membantu semua orang di kelas yang memiliki masalah dengan pekerjaan mereka. Munandar 2001 menyatakan semakin para anggota saling tertarik dan makin sepakat anggota terhadap sasaran dan tujuan kelompok maka makin kohesif kelompoknya dalam Purwaningtyas-tuti. Sehingga siswa saling membantu ketika memiliki masalah. Hal ini sejalan dengan item 16 yang menyumbang nilai sebesar 11,83% dengan pernyataan siswa merasa mendapat bantuan dari siswa lainnya di kelas. Kekompakan siswa dikatakan baik karena sebagian besar siswa merasa mengetahui dan berteman dengan semua siswa di kelas, saling menyukai antarsiswa, saling bekerjasama dan membantu dalam kesulitan dengan pekerjaan mereka. Jurnal Edufisika Volume 3 Nomor 2, Desember 2018 Kerjasama dan Kekompakan .... Amalla Rizki Putri, dkk hal32-40 39 Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang kerjasama dan kekompakan siswa dalam pembelajaran fisika di kelas XI MIPA SMAN 3 Kota Jambi sebanyak 268 responden, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kerjasama siswa dalam pembelajaran fisika di kelas XI MIPA SMAN 3 Kota Jambi termasuk dalam kategori “Sangat Baik”, dan kekompakan siswa dalam pembelajaran fisika di kelas XI MIPA SMAN 3 Kota Jambi termasuk dalam kategori “Baik”. Saran yang dapat disampaikan untuk pihak siswa, guru dan sekolah, hendaknya lebih menekankan nilai-nilai cooperation dan student cohesiveness lebih baik lagi pada pembelajaran fisika khususnya agar efektifitas pencapaian tujuan pembelajaran lebih tinggi lagi. Dan untuk pihak mahasiswa, hendaknya lebih giat lagi dalam menuntut ilmu agar dapat menerapkan ilmunya kepada masyarakat secara sempurna. Daftar Pustaka Aisyah. Penggunaan Model Cooperative Learning Tipe Think Pair Share Untuk Meningkatkan Hasil Belajar PKn Pada Siswa Kelas IV SD Muhammadiyah 3 Palu. Kreatif Tadulako, 44 297-305. Alfayummi dan Tanti. Hubungan Persepsi Siswa Terhadap Lingkungan Belajar Dengan Motivasi Belajar Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu Di Madrasah Tsanawiyah Negeri Olak Kemang. Prosiding, Seminar Nasional MIPA dan Pendidikan MIPA. Anjani, D., Suciati dan Maridi, 2017. Profil Keterampilan Kerjasama Dalam Kelompok Siswa Kelas XI SMA Negeri 8 Surakarta Pada Materi Sistem Peredaran Darah. Seminar Nasional Pendidikan Sains II. 94-98. Bagus D. Perbedaan Kohesivitas Siswa Yang Mengikuti Ekstrakurikuler Olahraga Dengan Siswa Yang Mengikuti Ekstrakurikuler Non Olahraga Di SMA Negeri 1 Sleman. Ilmu Keolahragaan. Dwiyanto, A. dk, 2012, Hubungan antara kohesivitas kelompok dengan komitmen organisasi pada karyawan PT. NA. Pekalongan, Seminar Nasional Psikologi Islami, halaman 272. Hapsari, N. S. dan Yonata, B., 2014. Keterampilan Kerjasama Saat Diskusi Kelompok Siswa Kelas XI IPA Pada Materi Asam Basa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Di SMA Kemala Bhayangkari 1 Surabaya. Unesa of Chemical Education, 32 181-188. Limpo, J. N., Oetomo, H. dan Suprapto, M. H., 2013. Pengaruh Lingkungan Kelas Terhadap Sikap Siswa Untuk Pelajaran Matematika. Humanitas, 101 37-48. Nasia, S., Saneba, B. dan Hasdin. Meningkatkan Kerjasama Siswa Pada Pembelajaran PKn Melalui Value Clarification Technique VCT Di Kelas IV GKLB Sabang. Kreatif Tadulako, 23 63-77. Nurhayati, RP. Pengaruh Lingkungan Belajar Di Kelas Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Kewirausahaan Di SMK Bina Mandiri Indonesia Surakarta Tahun Pelajaran 2014/2015. Universitas Sebelas Maret. Permana, M. M. A. 2017. Persepsi Terhadap Kohesivitas Kelompok Kerja Dengan Intensi Turnover Pada Pramuniaga. Psikologi Teori dan Terapan, 81 24-32. Purwaningtyastuti dkk. 2012. Kohesivitas Kelompok Ditinjau Dari Komitmen Terhadap Organisasi Dan Kelompok Pekerjaan. Kajian Ilmiah Psikologi, 12 179-182. Rosita I. Meningkatkan Kerjasama Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share. Formatif, 31 1-10. Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung Alfabeta. Jurnal Edufisika Volume 3 Nomor 2, Desember 2018 Kerjasama dan Kekompakan .... Amalla Rizki Putri, dkk hal32-40 40 Suhardi, 2013. Peningkatan Partisipasi Dan Kerjasama Siswa Menggunakan Model Kooperatif Tipe Jigsaw Pada Materi Protozoa Kelas X SMA Negeri Pengasih. Pendidikan Matematika Dan Sains, 12 140-146. Suparno, Paul. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Fisika. Yogyakarta Universitas Sanata Dharma. Syahrial, M. I. A., 2013. Perbandingan Tingkat Kohesivitas Antara Siswa Rintisan Sekolah Berstandar Internasional RSBI dan Sekolah Standar Nasional SSN. Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, 12 435-439. Winarno, B., 2012. Pengaruh Lingkungan Belajar Dan Motivasi Berprestasi Terhadap Hasil Belajar Siswa Kompetensi KeahlianTeknik Otomasi Industri Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Depok Yogyakarta. Universitas Negeri Yogyakarta. Yulianti, S. D., Djatmika, E. T. dan Santoso, A., 2016. Pendidikan Karakter Kerjasama Dalam Pembelajaran Siswa Sekolah Dasar Pada Kurikulum 2013. Teori dan Praksis Pembelajaran IPS, 11 33-38. ... Students feelings towards physics subjects will be reflected through the attitudes they show during the eye process at the time of learning. The higher the concentration of teachers and students, the more effective the learning activity is, on the other hand, if the concentration of students is low, the results will not be optimal [28]- [30]. ...Roro HoyiMinarni MinarniResearch Objectives This study aims to see students' responses using a simulation model while studying physics at SMAN 1 Muaro Jambi. Methodology This type of research is Mixed Methods in quantitative methods using student response questionnaires, and qualitative methods using interview instruments. The research subjects were 29 students from one class X MIA 5. Quantitative data analysis techniques used descriptive statistics. Main Findings The results of the analysis obtained from student responses using simulation models in physics subjects, namely, have a good response in using simulation models. Novelty/Original Research Choosing a good learning model will affect students' attitudes during class hours, if the learning model makes students enthusiastically active, the learning process will be productive. In the physics subject, students' responses using the direct instruction model can be said that students do not understand the concepts and formulas described by the teacher.... Hal tersebut mengharuskan pendidikan agar terus di kembangkan secara terus menerus sesuai dengan perkembangan zaman. Menurut Putri, dkk Lingkungan belajar merupakan bagian dari proses belajar yang menciptakan tujuan belajar [1]. Lingkungan belajar tidaklah lepas dari keberadaan siswa dalam belajar. ...Farida SubhanEva Asnita SilitongaTujuan Penelitian Tujuan penelitian ini untuk mengetahui minat belajar siswa/i yang dapat memotivasi dalam pembelajaran fisika. Metodologi Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data menggunakan skala minat belajar fisika. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji hipotesis berupa uji korelasi. Temuan Utama Hasil penelitian menunjukkan hasil Sig 2-tailed < α yaitu 0,05, maka minat belajar berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Keterbaruan/Keaslian dari Penelitian -... Mata pelajaran Fisika seringkali dianggap sulit oleh sebagian besar siswa di sekolah menengah pertama SMP dan sekolah menengah atas SMA [1]. Anggapan ini sangat berpengaruh besar pada minat belajar siswa pada mata pelajaran fisika disekolah tersebut [2]. ...Shella MaryaniTujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini ialah untuk menganalisis hubungan antara minat siswa terhadap mata pelajaran Fisika dengan Hasil belajar siswa dalam materi Elastisitas dan Hukum Hook. Metodologi jenis penelitian yang cocok adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan korelasional yaitu penelitian yang menggambarkan hubungan antara satu atau beberapa variabel dengan variabel lain penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan minat terhadap hasil belajarnya. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan SPSS sedangkan Pengumpulan data dilakukan melalui google form, dengan metode pengumpulan data menggunakan angket dan soal. Temuan Utama Berdasarkan judul penelitian yakni menganalisis hubungan minat belajar dan setelah dilakukan uji maka di dapati kesimpulan minat belajar dan prestasi belajar siswa berada pada kategori cukup baik, dimana sebagian besar siswa sudah memiliki minat dalam belajar. Terdapat hubungan yang signifikan antar minat belajar siswa dengan prestasi belajar, bersadarkan uji korelasi hubungan bernilai positif. Keterbaruan/Keaslian dari Penelitian Penelitian ini menggambarkan hubungan antara satu atau beberapa variabel dengan variabel lain penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan minat terhadap hasil belajarnya.... Adopsi dari sikap ilmiah adalah siswa yang menempatkan dirinya sebagai layaknya seorang ilmuwan serta bersikap ilmiah dengan segala perbuatan dan kebiasaan dalam hidupnya. Adopsi sikap ilmiah siswa dapat kita lihat melalui keterampilan siswa pada saat praktikum [30] [31]. Salah satu kendala dalam proses pembelajaran fisika adalah kurangnya siswa berpikir secara ilmiah tentang Fisika berdasarkan konsep sehingga dalam sulit mempelajari hal-hal yang abstrak [32]. ...Ani RahayuDinda Desma RomadonaTujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap siswa terhadap mata pelajaran fisika di SMK Raudhatul Mujawwidin. Metodologi Desain penelitian ini adalah pendekatan penelitian kuantitatif menggunakan metode survei dengan instrumen yang digunakan adalah angket kuisioner. Sampel dari penelitian ini yaitu 75 siswa di SMK Raudhatul Mujawwidin. Teknik analisis data kuantitatif menggunakan statistik sedkriptif. Sikap siswa terhadap fisika yang akan didiskusikan pada fokus penelitian ini berhubungan dengan beberapa indikator diantaranya indikator implikasi sosial terhadap fisika, sikap terhadap penyelidikan dalam fisika dan adopsi dari sikap ilmiah Temuan Utama Hasil dari 3 indikator yang didiskusikan pada penelitian ini, pada indikator implikasi sosial terhadap fisika sebanyak 52% berkategori baik. Untuk indikator sikap terhadap penyelidikan dalam fisika sebesar berkategori cukup. Kemudian pada indikator adopsi dari sikap ilmiah sebesar 32% berkategori baik. Novelty/Originality of this study Keterbahuan ini terdapat pada indicator yang digunakan oleh peneliti yaitu, sikap ilmiah, implikasi, dan sikap dalam penyelidikan fisika... Menurut Putri [4] Lingkungan belajar tidaklah lepas dari keberadaan siswa dalam belajar. Kebiasaan belajar siswa dipengaruhi oleh kebiasaan siswa dalam belajar di sekolah, di rumah maupun di masyarakat [5]. ...Ahmad WidodoFera YusmanitaTujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubugan Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI MIPA 3 di SMA Negeri 1 Muaro Jambi. Metodologi Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrument angket dan tes. Untuk mengukur motivasi menggunakan tes skala. Tes hasil belajar menggunakan soal-soal berupa pilihan ganda dengan 25 butir dengan materi gelombang bunyi. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI MIPA 3 di SMA Negeri 1 Muaro Jambi yang diambil dengan jumlah sampel sebanyak 24 siswa dari jumlah keselurah siswa yaitu 34 siswa. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik random sampling. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Descriptive parametrik. Uji hipotesis yang digunakan yaitu uji korelasi. Temuan Utama Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara motivasi belajar fisika siswa kelas XI MIPA 3 dengan hasil belajar pada materi gelombang bunyi. Keterbaruan/Keaslian dari Penelitian Dapat mengetahui hubungan motivasi belajar siswa dengan hasil belajar siswa pada pembelajaran fisika... Mata pelajaran Fisika seringkali dianggap sulit oleh sebagian besar siswa di sekolah menengah pertama SMP dan sekolah menengah atas SMA [1]. Anggapan ini sangat berpengaruh besar pada minat belajar siswa pada mata pelajaran fisika disekolah tersebut [2]. ... Mashelin WulandariTujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sikap siswa kelas X di SMA Negeri 1 Sungai Penuh terhadap pelajaran fisika. jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Metodologi Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Sungai Penuh dengan rincian kelas X MIPA 1, X MIPA 2, dan X MIPA 3. Penelitian ini menggunakan teknik total dengan total 60 siswa dari ketiga kelas tersebut. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dan teknik analisa data statistik deskriptif dengan bantuan software IBM SPSS Statistics. Instrument angket menggunakan skala likert yang terdiri dari 5 indikator.. Temuan Utama Hasil persentase dominan yang diperoleh untuk setiap indikator adalah 90% pada implikasi sosial dari fisika, 71,7 % pada normalitas ilmuwan fisika, 70% pada indikator sikap terhadap penyelidikan dalam fisika , 65% pada indikator adopsi dari sikap ilmiah dan 83,3% pada indikator kesenangan dalam belajar fisika. Sehingga dari seluruh indikator dapat dikatakan bahwa siswa kelas X di SMA Negeri 1 Sungai Penuh memiliki sikap yang baik terhadap pelajaran fisika. Keterbaruan/Keaslian dari Penelitian Sikap siswa dikategorikan sangat baik. Karena persentase nilai yang dominan berada di kategori baik.... Pembelajaran fisika yang berpacu pada konsep-konsep memerluan pemahaman yang tinggi. Terkadang, satu guru tidak dapat mengimbangi banyaknya siswa di kelas [14]. Banyaknya Siswa terkadang sulit untuk diatur supaya kondusif diruangan kelas. ...Husna MayasariAgnes Aktapianti Br. GintingTujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui sikap siswa terhadap mata pelajaran fisika di SMA N Titian Teras H. Abdurrahman Sayoeti. Metodologi Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian berupa angket atau kuesioner yang disebar secara online. Hasil penelitian yang dari data telah didapatkan akan di analisis menggunakan teknik analisis deskriptif berupa mencari nilai mean, median, maksimum dan minimum serta frekuensi dan persentase. Temuan Utama Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan menggunakan aplikasi spss dapat di ketahui bahwa sikap belajar siswa dikelas X MIPA3 di SMA N Titian Teras H. Abdurahman Sayoeti dapat di kategorikan “baik”. Keterbaruan/Keaslian dari Penelitian Penelitian ini mengkaji bagaimana sikap belajar siswa terhadap pelajaran fisika di SMA.... Fisika adalah mata pelajaran pada jenjang pendidikan sekolah Menengah Atas SMA yang dirancang agar peserta didik memahami alam di sekitarnya secara ilmiah dan mempersiapkan siswa yang melek sains dan teknologi melalui pengembangan keterampilan proses, keterampilan berpikir, penguasaan konsep sains dan kegiatan teknologi [6], [7]. Pelajaran Fisika seringkali dianggap sebagai suatu pelajaran yang sukar, membosankan, sulit bahkan dianggap menakutkan bagi siswa [8]. Akibatnya siswa tidak dapat fokus tentang materi apa yang telah disampaikan oleh guru . ...Retno NurwulanFeri FebriantoTujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana disiplin belajar siswa kelas XII MIPA di SMA Negeri 1 Kuala Tungkal dalam belajar mata pelajaran fisika. Metodologi Subjek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas XII MIPA di SMA Negeri 1 Kuala Tungkal. Objek dalam penelitian ini yaitu disiplin belajar siswa kelas XII MIPA di SMA Negeri 1 Kuala Tungkal terhadap mata pelajaran fisika. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis metode studi kasus case study. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pemberian angket pada siswa dan pengolahan data dilakukan dengan teknik Analysis Interactive model dari Miles dan Huberman. Selanjutnya membuat persentase dari hasil angket siswa. Temuan Utama Berdasarkan hasil analisis data dari tiap indikator disiplin didapati bahwa secara keseluruhan siswa kelas XIX MIPA di SMA Negeri 1 Kuala Tungkal memiliki disiplin yang baik dalam kegiatan belajar pada ilmu fisika dengan persentase rata-rata skor 79,43 %. Ketaatan terhadap tata tertib sekolah dengan persentase rata-rata skor 96,55 % dan ketaatan dalam mengerjakan tugas sekolah dengan persentase rata-rata skor 67,99 %. Berdasarkan hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa siswa kelas XII MIPA di SMA Negeri 1 Kuala Tungkal memiliki disiplin yang baik terhadap mata pelajaran fisika. Keterbaruan/Keaslian dari Penelitian Keterbaruan penelitian ini yaitu adanya analisis disiplin belajar fisika siswa di jenjang kelas XII, dengan temuan siswa di SMAN 1 Kuala Tungkal memiliki disiplin yang baik.... The purpose of education is to realize the process of developing the personal qualities of students who do not only intend to form intelligent Indonesian people, but also have personality or character, so that later generations of nations will be born who grow and develop with useful characters [1]. Character education in order to help students not only to become smart but also to become good [2]. In the formation of this character, the teacher is the main key that helps build character in students through the learning process. ...Darwita HendriyaniResearch Objectives This study aims to develop a Guided Inquiry-based Physics module on work and energy material for class X SMA and to find out students' perceptions of the media being developed. Methodology This research is research development Research and Development using the 4D development model Define-Design-Development-Dissemination. However, this research was only carried out up to the Development stage. The research instrument used was a student needs questionnaire. Data were analyzed using descriptive statistical analysis techniques. The subjects of this development research were students of class X IPA 3 in 2018. The resulting media has specifications in the .exe format which can be operated on a computer/laptop without installing PageFlip Professional 3D software. Main Findings The results of the development trial show that the Physics electronic module can increase students' interest in the Physics learning process in the material of work and energy. Based on the results of the research, it can be concluded that the Guided Inquiry-based Physics electronic module on work and energy material for class X SMA that was developed is suitable for use as an independent or additional learning medium in the learning process of students. Novelty/Originality of Research The importance of innovation in learning is to attract students' interest and motivation in learning, therefore, the need for new innovations carried out by teachers in learning that they are capable of Wulan DariAfrihesty SuzimaTujuan penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis siswa SMAN 8 Muaro Jambi Pada pembelajaran fisika materi suhu dan kalor. Metodologi Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan dengan metode campuran mixed methods dengan desain sequential explanatory yang menggabungkan metode penelitian kuantitatif dengan kualitatif secara berurutan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini siswa SMAN 8 Muaro Jambi yang berjumlah 96 siswa kelas XI MIPA 1 sampai XI MIPA 3 semester ganjil 2019/2020. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan wawancara. Temuan utama Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator kemampuan klasifikasi dasar materi suhu dan kalor termasuk dalam kategori tidak kritis dengan persentasi 53,1%. Indikator kemampuan pengambilan keputusan materi suhu dan kalor termasuk dalam kategori tidak kritis dengan persentasi 54%. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa siswa SMAN 8 Muaro Jambi tergolong dalam kategori tidak kritis. Rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa disebabkan karena siswa belum terbiasa disajikan pembelajaran aktif yang memaksimalkan potensi berpikir siswa. Aplikasi dari penelitain Penelitian ini dapat digunakan dalam menganlisis kemampuan berfikir kritis yang dimiliki siswa. Keterbaruan penelitian keterbaruan dalam penelitian yaitu berupa menganalisis kemapuan berfikir kritis yang dimiliki siswa SMAN 8 Muaro Novita LimpoHasan Oetomo Maria Helena SupraptoAbstrakAttitude plays a great role in student’s learning behavior. This study was designed to investigate the contributions of classroom environment to students’ attitude toward math. Participants in this study were 70 students of Etika Dharma Catholic Junior High School in Surabaya. Classroom environment was measured using adaptation of what is happening in This Class? WIHIC scale and attitude toward math was measured using a scale developed by the researcher. The result shows that there is a significant positive correlation between classroom environment and attitude toward math r = 0,359, p < 0,01, which means the more positive students’ perception of their classroom environment, the more positive their attitude towards math would be. The linear regression analysis shows that classroomenvironment effectively contributes 12,9% to students’ attitude toward math r2 = 0,129. Classroom environment can be used to predict students’ attitude toward math, with the equation Y = 48,916 + 0,229 X ± 23,023. Result shows that classroom environment has a significant influence onattitude toward math, although not too significant. This is due to the existence of other variables that may influence attitude toward math, such as achievement, peers, teacher, and other environmental attitude toward math, classroom environment,mathProfil Keterampilan Kerjasama Dalam Kelompok Siswa Kelas XI SMA NegeriD AnjaniSuciati Dan MaridiAnjani, D., Suciati dan Maridi, 2017. Profil Keterampilan Kerjasama Dalam Kelompok Siswa Kelas XI SMA NegeriHubungan antara kohesivitas kelompok dengan komitmen organisasi pada karyawan PT. NA. Pekalongan, Seminar Nasional Psikologi IslamiA DwiyantoDkDwiyanto, A. dk, 2012, Hubungan antara kohesivitas kelompok dengan komitmen organisasi pada karyawan PT. NA. Pekalongan, Seminar Nasional Psikologi Islami, halaman Kerjasama Saat Diskusi Kelompok Siswa Kelas XI IPA Pada Materi Asam Basa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Di SMA Kemala Bhayangkari 1 SurabayaN S HapsariB Dan YonataHapsari, N. S. dan Yonata, B., 2014. Keterampilan Kerjasama Saat Diskusi Kelompok Siswa Kelas XI IPA Pada Materi Asam Basa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Di SMA Kemala Bhayangkari 1 Surabaya. Unesa of Chemical Education, 32 Kerjasama Siswa Pada Pembelajaran PKn Melalui Value Clarification Technique VCT Di Kelas IV GKLB SabangS NasiaB SanebaDan HasdinNasia, S., Saneba, B. dan Hasdin. Meningkatkan Kerjasama Siswa Pada Pembelajaran PKn Melalui Value Clarification Technique VCT Di Kelas IV GKLB Sabang. Kreatif Tadulako, 23 Lingkungan Belajar Di Kelas Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Kewirausahaan Di SMK Bina Mandiri Indonesia Surakarta Tahun PelajaranR P NurhayatiNurhayati, RP. Pengaruh Lingkungan Belajar Di Kelas Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Kewirausahaan Di SMK Bina Mandiri Indonesia Surakarta Tahun Pelajaran 2014/ Kelompok Ditinjau Dari Komitmen Terhadap Organisasi Dan Kelompok PekerjaanPurwaningtyastuti DkkPurwaningtyastuti dkk. 2012. Kohesivitas Kelompok Ditinjau Dari Komitmen Terhadap Organisasi Dan Kelompok Pekerjaan. Kajian Ilmiah Psikologi, 12 Penelitian PendidikanSugiyonoSugiyono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung Partisipasi Dan Kerjasama Siswa Menggunakan Model Kooperatif Tipe Jigsaw Pada Materi Protozoa Kelas X SMA Negeri PengasihSuhardiSuhardi, 2013. Peningkatan Partisipasi Dan Kerjasama Siswa Menggunakan Model Kooperatif Tipe Jigsaw Pada Materi Protozoa Kelas X SMA Negeri Pengasih. Pendidikan Matematika Dan Sains, 12 Penelitian Pendidikan Fisika. Yogyakarta Universitas Sanata DharmaPaul SuparnoSuparno, Paul. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Fisika. Yogyakarta Universitas Sanata Dharma.

kekompakan merupakan unsur utama dalam